get app
inews
Aa Text
Read Next : Inilah Jalur Langit ala Sahabat: Definisi dan Praktik Beragama yang Paling Original

Takaran Rezeki, Sebuah Rumus yang Tak Bisa Dipecahkan oleh Keserakahan

Jum'at, 26 Juni 2026 | 08:01 WIB
header img
Ada satu variabel yang tidak pernah bisa diintervensi oleh ambisi sekeras apa pun, yakni takaran rezeki. Foto: Dok

MEDAN, iNewsMedan.id -  Di dunia yang bergerak dengan algoritma pencapaian, manusia sering kali terjebak dalam delusi bahwa mereka adalah arsitek tunggal atas nasibnya sendiri. Kita menghitung jam kerja, mengalikan keringat, menambah koneksi, lalu menuntut hasil yang instan dan melimpah. Namun, di atas semua hitung-hitungan matematis manusia, ada satu variabel yang tidak pernah bisa diintervensi oleh ambisi sekeras apa pun, yakni takaran rezeki.

Ia adalah sebuah rumus gaib. Sebuah ketetapan yang rigid namun adil, yang telah selesai ditulis bahkan sebelum manusia mengenal arti kata "mencari".

Ilusi Angka dan Jebakan "Kurang"

Keserakahan manusia modern lahir dari kegagalan membedakan antara keinginan dan rezeki. Keinginan sifatnya tak terbatas—ia menggelembung setiap kali ego diberi makan. Sementara rezeki adalah apa yang benar-benar bisa kita nikmati dan beri manfaat.

Seorang koruptor mungkin bisa menumpuk angka digital di rekening banknya hingga miliaran rupiah, atau mengoleksi sertifikat tanah dari Sabang sampai Merauke. Namun, apakah semua itu rezekinya? Belum tentu.

Ketika makanan mewah di mejanya tak bisa dimakan karena penyakit, atau tidurnya tak pernah nyenyak karena dikejar bayang-bayang ketakutan, di situlah rumus rezeki bekerja. Angka di rekening adalah milik bank, aset yang tertumpuk adalah milik ahli waris, sementara rezeki aslinya mungkin hanya semangkuk bubur hambar yang mampu dicerna oleh tubuhnya hari itu.

Serakah selalu mencoba mendobrak pintu takaran. Ia memicu manusia untuk menghalalkan segala cara: memotong hak orang lain, menyikut kawan, hingga memanipulasi keadaan. Sialnya, sekeras apa pun keserakahan itu bekerja memeras keringat dan logika, ia tidak akan pernah bisa menambah volume dari wadah yang sudah ditentukan. Hasil akhirnya hanyalah kelelahan jiwa yang akut.

Ulama Islam Abu Hatim Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkan perkataan seorang penyair:

ينال الغنى من ليس يسعى إلى الغنى ... ويحرم من يسعى له ويداوم

Kekayaan terkadang didapatkan oleh orang yang tidak bersusah payah mengejarnya,
Dan terkadang luput dari orang yang terus-menerus berambisi mencarinya.

وما العجز يحرمه ولا الحرص جالب ... وما هو إلا حظوة ومقاسم ...

Bukanlah kelemahan diri yang menghalanginya dari rezeki, dan bukan pula ketamakan ambisi yang mendatangkannya.
Melainkan semua itu semata karunia dan takdir pembagian (dari Allah).

(Raudhatul ‘Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’, hlm. 156) 

Semoga bermanfaat.

 

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut