get app
inews
Aa Text
Read Next : 1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli, Senjata Baru Medan Hadapi Krisis Iklim

Longsor Batang Toru Diduga Tewaskan 10 Persen Populasi Orangutan Tapanuli

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:41 WIB
header img
Ilustrasi. Foto: Istimewa

Panut mengatakan bahwa tim OIC saat ini masih melakukan verifikasi lapangan untuk menghitung dampak kerusakan habitat secara lebih rinci. Sedikitnya 15 jalur survei orangutan yang biasa digunakan untuk memperkirakan populasi mengalami kerusakan akibat longsor.

Ia menilai krisis iklim kini menjadi ancaman besar yang harus mendapat perhatian setara dengan perburuan dan hilangnya habitat.

"Kita bisa mengurangi tekanan dari perburuan atau perambahan, tetapi kejadian cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim kini menjadi ancaman besar bagi kelungsungan hidup orangutan tapanuli," katanya.

Profesor Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London, menjelaskan bahwa tim peneliti melakukan studi atribusi cuaca untuk mengetahui sejauh mana perubahan iklim memengaruhi hujan ekstrem yang memicu longsor tersebut.

Menurut Otto, hujan deras yang terjadi berkaitan dengan Siklon Tropis Senyar yang melintasi kawasan tersebut pada 26–27 November 2025. Selain dipengaruhi oleh fenomena alam seperti La Niña dan Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD), perubahan iklim akibat aktivitas manusia turut meningkatkan intensitas hujan secara signifikan.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem di kawasan ini sekitar 10 hingga 50 persen dibandingkan dengan kondisi tanpa pemanasan global," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa serupa saat ini diperkirakan terjadi sekali dalam 70 tahun. Namun, peluang terjadinya akan terus meningkat seiring dengan kenaikan suhu global akibat emisi gas rumah kaca.

"Krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati saling terkait. Kita tidak bisa menghentikan yang satu tanpa mengatasi penyebab yang lain," katanya.

Profesor Serge Wich, primatolog dari Liverpool John Moores University, mengatakan bahwa dampak longsor ini menunjukkan pentingnya meningkatkan ketahanan lanskap Batang Toru melalui pemulihan konektivitas habitat.

Menurutnya, populasi orangutan tapanuli saat ini hidup dalam beberapa kantong habitat yang terpisah. Kondisi tersebut membatasi pergerakan satwa dan pertukaran genetik yang penting bagi kelangsungan hidup spesies.

"Akan sangat ideal jika ada rencana aksi skala lanskap yang menghubungkan kembali kawasan hutan yang terfragmentasi, sehingga populasi orangutan menjadi lebih tangguh menghadapi ancaman di masa depan," ujarnya.

Editor : Jafar Sembiring

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut