Biaya Energi Naik, Industri Diingatkan Jangan Abaikan K3
MEDAN, iNewsMedan.id– Kenaikan biaya energi dan tekanan operasional membuat pelaku industri dipaksa mencari celah efisiensi baru. Di tengah kondisi itu, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dinilai bukan lagi sekadar kewajiban perusahaan, melainkan strategi bisnis untuk menjaga produktivitas dan mencegah kerugian besar akibat kecelakaan kerja.
Isu ini mengemuka dalam seminar bertajuk Penguatan Budaya K3 dalam Pengelolaan Risiko Bahan Kimia di Industri yang digelar PT Wahana Safety Indonesia (WSI) berkolaborasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara, Rabu (23/4/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 400 peserta dari berbagai sektor industri di Sumut.
Direktur Sales & Marketing PT Wahana Safety Indonesia, Frans Hermanto, menegaskan masih banyak perusahaan yang memandang K3 sebagai beban biaya, padahal justru menjadi faktor penting dalam efisiensi operasional.
“Banyak perusahaan masih melihat K3 sebagai cost center, padahal dalam praktiknya K3 justru menjadi salah satu driver efisiensi terbesar. Satu insiden saja dapat menghentikan operasional dan menimbulkan kerugian berlipat, mulai dari downtime produksi hingga biaya kompensasi,” ujarnya.
Menurut Frans, risiko terbesar di industri bukan hanya kecelakaan yang terlihat, tetapi juga paparan bahan kimia yang tidak terdeteksi dan terakumulasi dalam jangka panjang.
“Paparan bahan kimia ini bukan hanya berujung pada insiden akut seperti kebakaran, tetapi juga penyakit akibat kerja jangka panjang sampai gangguan operasional yang sangat signifikan,” katanya.
Ia menilai kegagalan dalam pengelolaan risiko bahan kimia bisa memicu kerugian finansial besar bagi perusahaan. Karena itu, implementasi K3 harus dilakukan lebih komprehensif, mulai dari identifikasi bahan berbahaya, penilaian risiko, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat.
“Bukan sekadar tersedia APD, tapi APD itu harus tepat. Kita harus mengubah paradigma, K3 bukan sekadar biaya, tetapi mekanisme pengendalian risiko yang berdampak langsung pada efisiensi operasional,” ucapnya.
Frans juga mengajak seluruh pihak mengubah budaya keselamatan melalui gerakan nasional bertajuk #MulaiDariSaya. “Keselamatan bukan tentang apa yang kita rancang, tetapi tentang apa yang kita jalankan secara konsisten. Jangan tunggu sistem sempurna, jangan salahkan orang lain, mulai dari kita, mulai hari ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumut, Yuliani Siregar, mengungkapkan kondisi penerapan K3 di Sumatera Utara saat ini masih memprihatinkan. “Informasi dari Balai K3, kondisi K3 di Sumatera Utara saat ini sudah lampu merah,” ujarnya.
Yuliani mengatakan pihaknya banyak menerima laporan dari terkait kelalaian penerapan K3 di sejumlah perusahaan. Bahkan, beberapa kasus kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa diduga dipicu kelalaian penggunaan APD. Ia mencontohkan kasus pekerja yang meninggal di gorong-gorong dan insiden maut di kawasan Islamic Center. “Contoh tadi ada yang meninggal di gorong-gorong karena petugas tidak memakai APD. Begitu juga di Islamic Center ada yang meninggal. Ini yang harus jadi perhatian bersama,” katanya.
Menurut Yuliani, pihaknya akan turun ke lapangan usai peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei mendatang untuk mengevaluasi penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) di seluruh perusahaan.
“Setelah May Day, kami akan turun ke lapangan bersama Balai K3 dan Pam Obvit Polda untuk mengevaluasi penerapan SMK3 di kawasan industri seperti KIM, Sei Mangkei, Kimstar, termasuk perkebunan dan perusahaan swasta lainnya,” ujarnya.
Ia menegaskan evaluasi tersebut rencananya dilakukan secara berkala setiap tiga bulan. Yuliani juga mengingatkan perusahaan agar tidak menunggu insiden terjadi baru melengkapi sarana keselamatan kerja.
“Jangan tunggu ada bahaya dulu, jangan tunggu ada korban dulu baru menggunakan peralatan. Banyak yang berpikir mahal, padahal kalau sudah terjadi kecelakaan, kerugiannya jauh lebih besar,” tuturnya.
Selain menekan angka kecelakaan kerja, penerapan K3 yang baik juga dinilai mampu menjaga kesehatan pekerja dari paparan bahan kimia serta mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
“Kalau K3 bagus, pengelolaan lingkungan juga bagus, kita bisa bebas polusi dan pekerja lebih sehat,” katanya.
Editor : Ismail