Guru Besar USU Sebut Ekofisiologis Tidak Sesuai Picu Banjir dan Tanah Longsor
Pakar konservasi tanah dan air ini juga mematahkan stigma negatif terhadap sawit dengan memaparkan fakta sejarah dan teknis. Ia mengingatkan bahwa perkebunan sawit telah ada di Sumatra Utara sejak tahun 1911, jauh sebelum isu lingkungan mencuat sehebat sekarang.
Secara fisiologis, satu pohon sawit dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari, sementara kebun sawit yang dikelola dengan baik pada lahan yang tepat dapat menyerap air hujan rata-rata setara 43.500 liter per hari. Sistem perakaran serabut yang rapat pada sawit bahkan membuat tanah menjadi gembur dan membentuk area resapan menyerupai mangkok besar yang berfungsi sebagai tandon air tanah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, memandang bahwa paparan para akademisi memberikan pemahaman utuh mengenai akar penyebab bencana di Sumatra. Ia menekankan pentingnya penertiban lahan ilegal yang dibuka tanpa memperhatikan aspek ekofisiologi.
Kacuk mencontohkan beberapa wilayah seperti Bahorok dan Simangulampe di Sumatra Utara yang tetap mengalami banjir bandang meski di area hulunya tidak terdapat perkebunan kelapa sawit. Hal ini membuktikan bahwa penyebab bencana sangat kompleks dan tidak bisa hanya disederhanakan menjadi satu faktor tunggal.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta