Guru Besar USU Sebut Ekofisiologis Tidak Sesuai Picu Banjir dan Tanah Longsor
MEDAN, iNewsMedan.id – Rentetan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat pada akhir tahun lalu dinilai berakar dari tata kelola lahan yang mengabaikan prinsip ekofisiologi tanaman.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU), Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, menjelaskan bahwa risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim sebenarnya dapat diminimalisir jika interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dan kondisi lingkungan fisik diperhatikan secara saksama.
Kriteria kesesuaian lahan, baik di tanah mineral maupun gambut, menjadi kunci utama agar aktivitas perkebunan maupun kehutanan tidak justru merusak ekosistem.
Dalam diskusi ilmiah bertajuk "Dialektika Sawit Indonesia" di Kampus USU Medan pada Selasa (10/2), Prof. Abdul Rauf menegaskan bahwa tanaman apa pun dapat memicu kerusakan lingkungan jika dipaksakan tumbuh di lahan yang tidak sesuai dengan karakter ekofisiologinya.
Oleh karena itu, ia menilai tidak adil jika bencana alam yang terjadi serta-merta dituduhkan kepada satu jenis komoditas tertentu seperti kelapa sawit. Kerusakan lingkungan lebih sering disebabkan oleh aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, penanaman tak berizin, hingga pertambangan ilegal yang mengabaikan daya dukung lahan.
Pakar konservasi tanah dan air ini juga mematahkan stigma negatif terhadap sawit dengan memaparkan fakta sejarah dan teknis. Ia mengingatkan bahwa perkebunan sawit telah ada di Sumatra Utara sejak tahun 1911, jauh sebelum isu lingkungan mencuat sehebat sekarang.
Secara fisiologis, satu pohon sawit dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari, sementara kebun sawit yang dikelola dengan baik pada lahan yang tepat dapat menyerap air hujan rata-rata setara 43.500 liter per hari. Sistem perakaran serabut yang rapat pada sawit bahkan membuat tanah menjadi gembur dan membentuk area resapan menyerupai mangkok besar yang berfungsi sebagai tandon air tanah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, memandang bahwa paparan para akademisi memberikan pemahaman utuh mengenai akar penyebab bencana di Sumatra. Ia menekankan pentingnya penertiban lahan ilegal yang dibuka tanpa memperhatikan aspek ekofisiologi.
Kacuk mencontohkan beberapa wilayah seperti Bahorok dan Simangulampe di Sumatra Utara yang tetap mengalami banjir bandang meski di area hulunya tidak terdapat perkebunan kelapa sawit. Hal ini membuktikan bahwa penyebab bencana sangat kompleks dan tidak bisa hanya disederhanakan menjadi satu faktor tunggal.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta