MEDAN, iNewsMedan.id - Komoditas cabai rawit, bensin dan beras pada Oktober 2026 menjadi penyumbang infalasi terbesar di Sumatera Utara ( Sumut) yang mencapai 3,19 persen.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra mengatakan, inflasi Oktober 2026 tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,89 pada Oktober 2025 menjadi 114,43 pada Oktober 2026.
“Pada Oktober 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,19 persen. Adapun tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,27 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,94 persen,” kata Asim Saputra, Senin (2/11/2026).
Asim menjelaskan, inflasi tahunan tersebut disebabkan dengan kenaikan harga pada sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat kenaikan sebesar 4,49 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 4,56 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,43 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,35 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,35 persen.
Selain itu, sejumlah komoditas tercatat dominan menyumbang inflasi tahunan. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,38 persen, disusul bensin 0,21 persen, beras 0,20 persen, dan tomat 0,19 persen.
Emas perhiasan turut memberikan andil sebesar 0,14 persen, minyak goreng 0,13 persen, daging ayam ras 0,12 persen, serta angkutan udara 0,11 persen.
"Kemudian, komoditas justru memberikan andil deflasi tahunan. Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar sebesar 0,24 persen, diikuti bawang merah sebesar 0,15 persen dan kentang sebesar 0,07 persen," jelasnya.
Asim menuturkan, secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), Sumatera Utara mengalami inflasi sebesar 0,27 persen pada Oktober 2026. Cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar sebesar 0,25 persen.
Selanjutnya, cabai rawit memberikan andil sebesar 0,09 persen dan tomat sebesar 0,07 persen. Bayam, angkutan udara dan sawi hijau masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen.
Sementara itu, daging ayam ras menjadi komoditas penyumbang deflasi bulanan terbesar dengan andil 0,23 persen. Komoditas lain yang turut menahan laju inflasi antara lain ikan kembung, kentang, bawang merah dan beras.
"Dari sebelas kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 1,63 persen. Kelompok transportasi menyumbang 0,42 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,28 persen," ujarnya.
Asim menambahkan, seluruh kabupaten dan kota IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026.
Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 4,92 persen dengan IHK sebesar 117,06. Sementara inflasi tahunan terendah terjadi di Kota Medan sebesar 2,84 persen dengan IHK sebesar 113,03.
Pada Oktober 2026, sebagian besar kabupaten dan kota IHK di Sumatera Utara juga mengalami inflasi bulanan. Inflasi m-to-m tertinggi terjadi di Kota Padangsidimpuan.
"Jika dibandingkan, inflasi tahunan Sumatera Utara pada Oktober 2024 tercatat sebesar 1,59 persen dan meningkat menjadi 4,97 persen pada Oktober 2025. Sementara pada Oktober 2026, inflasi tahunan kembali berada di level 3,19 persen dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,94 persen," pungkasnya.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
