Perubahan juga terjadi pada sarana. Jika pada 1958 operasional kereta masih didominasi lokomotif uap, tujuh tahun kemudian mulai masuk era lokomotif diesel seri BB300 pada 1965.
Kini, jaringan rel aktif di Sumatera Utara mencapai 476,46 kilometer. Selain melayani perjalanan penumpang, jaringan tersebut mencakup jalur menuju Bandara Internasional Kualanamu yang mulai beroperasi pada 2013 serta jalur menuju Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.
Aktivitas angkutan kereta api juga menunjukkan perubahan fungsi dari sekadar pengangkut hasil perkebunan menjadi bagian dari mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KAI Divre I Sumut mencatat 1.857.059 penumpang. Jumlah itu meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebanyak 1.773.706 penumpang.
Pada periode yang sama, angkutan barang mencapai 550.162 ton, naik 16 persen dibandingkan Januari hingga Agustus 2025 yang tercatat 472.609 ton. Barang yang diangkut antara lain bahan bakar minyak (BBM), peti kemas, crude palm oil (CPO), serta produk industri lainnya.
Anwar mengatakan perjalanan panjang perkeretaapian tersebut kini memasuki fase yang berbeda, dengan digitalisasi dan integrasi antarmoda menjadi bagian dari perkembangan layanan.
"Memperingati 81 tahun KAI, kami tidak hanya mengenang sejarah perjalanan perkeretaapian, tetapi juga membuktikan komitmen untuk terus relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui peningkatakan kinerja layanan penumpang dan penguatan angkutan barang berbasis digitalisasi serta integrasi antarmoda, KAI Divre I Sumut siap terus menjadi penggerak roda ekonomi dan mobilitas masyarakat Sumatera Utara sambil menjaga warisan sejarah yang ada," kata Anwar.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
