Jejak Kereta Api Sumut: Dari Tembakau Deli, Lokomotif Uap hingga 476 Kilometer Rel Aktif

Ismail
Jejak kereta api Sumut bermula dari jalur Medan-Labuhan pada 1886 untuk mengangkut hasil perkebunan, kini berkembang menjadi jaringan rel modern sepanjang 476,46 kilometer. Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id– Jaringan kereta api di Sumatera Utara tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkebunan dan perdagangan pada masa kolonial. Rel pertama dibangun untuk menghubungkan kawasan perkebunan Deli dengan pelabuhan, sebelum kemudian berkembang menjadi jaringan transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah di Sumut.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan sejarah perkeretaapian di Sumut bermula pada akhir abad ke-19 ketika Deli berkembang sebagai pusat perkebunan ekspor, terutama tembakau.

Perusahaan kereta api swasta Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), memperoleh konsesi untuk membangun jaringan rel. Jalur pertama Medan–Labuhan mulai dibuka pada 25 Juli 1886.

"Dengan berkembangnya perkebunan dan aktivitas perdagangan, jaringan rel kemudian meluas hingga menghubungkan Medan dengan Belawan, Binjai, Deli Tua, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, Teluk Nibung, Kisaran, hingga Rantau Prapat," ujar Anwar, Senin, 28 September 2026.

Jalur-jalur tersebut pada masanya menjadi penghubung penting antara sentra produksi perkebunan dan pelabuhan ekspor. Sekitar 1937, total panjang jaringan rel DSM mencapai 553,2 kilometer dengan komoditas yang diangkut antara lain tembakau, karet, kelapa sawit dan hasil bumi lainnya.

Setelah Indonesia merdeka, wajah pengelolaan perkeretaapian di Sumut ikut berubah. Jika di wilayah lain pengambilalihan perusahaan kereta api berlangsung melalui proses berbeda, di Sumut jaringan DSM dinasionalisasi pada 1957.

"Perkeretaapian di Sumatera Utara memiliki karakter dan sejarah peralihan yang khas. Berbeda dengan wilayah lain, proses peralihannya berlangsung melalui nasionalisasi perusahaan kereta api swasta Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), setelah Indonesia merdeka pada 1957. Pengelolaan eks-DSM kemudian masuk ke dalam jaringan perkeretaapian negara hingga menjadi KAI saat ini," kata Anwar.

Seiring perubahan pengelolaan, sejumlah jalur cabang yang sebelumnya menopang aktivitas perkebunan kemudian berhenti beroperasi. Di antaranya jalur menuju Deli Tua, Bangun Purba dan Pangkalan Brandan. Berkurangnya lahan perkebunan serta turunnya permintaan angkutan komoditas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlangsungan jalur tersebut.

Perubahan juga terjadi pada sarana. Jika pada 1958 operasional kereta masih didominasi lokomotif uap, tujuh tahun kemudian mulai masuk era lokomotif diesel seri BB300 pada 1965.

Kini, jaringan rel aktif di Sumatera Utara mencapai 476,46 kilometer. Selain melayani perjalanan penumpang, jaringan tersebut mencakup jalur menuju Bandara Internasional Kualanamu yang mulai beroperasi pada 2013 serta jalur menuju Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.

Aktivitas angkutan kereta api juga menunjukkan perubahan fungsi dari sekadar pengangkut hasil perkebunan menjadi bagian dari mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KAI Divre I Sumut mencatat 1.857.059 penumpang. Jumlah itu meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebanyak 1.773.706 penumpang.

Pada periode yang sama, angkutan barang mencapai 550.162 ton, naik 16 persen dibandingkan Januari hingga Agustus 2025 yang tercatat 472.609 ton. Barang yang diangkut antara lain bahan bakar minyak (BBM), peti kemas, crude palm oil (CPO), serta produk industri lainnya.

Anwar mengatakan perjalanan panjang perkeretaapian tersebut kini memasuki fase yang berbeda, dengan digitalisasi dan integrasi antarmoda menjadi bagian dari perkembangan layanan.

"Memperingati 81 tahun KAI, kami tidak hanya mengenang sejarah perjalanan perkeretaapian, tetapi juga membuktikan komitmen untuk terus relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui peningkatakan kinerja layanan penumpang dan penguatan angkutan barang berbasis digitalisasi serta integrasi antarmoda, KAI Divre I Sumut siap terus menjadi penggerak roda ekonomi dan mobilitas masyarakat Sumatera Utara sambil menjaga warisan sejarah yang ada," kata Anwar.

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network