Ikhtiar Tabita Olah Eceng Gondok di Toba Jadi Sandal: Menjaga Lingkungan, Menggerakkan Ekonomi

Jafar
Sumondang Tabita Nainggolan (34) menunjukkan proses pembuatan sandal berbahan eceng gondok di gubuk produksinya, Desa Parsaoran I, Samosir, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Foto: Jafar/iNewsMedan.id

Tempaan Pasar dan Sentuhan Pendampingan INALUM

Dengan bahan baku eceng gondok dan alat tenun bukan mesin atau kasuksak, Tabita mulai menghasilkan beragam produk seperti topi, keranjang, tas, kotak tisu, vas bunga, karpet, hingga sandal hotel.

Pada April 2024, produk buatannya mulai terjual secara komersial. Pemasarannya masih sangat sederhana, yaitu memanfaatkan fitur status WhatsApp milik ibunya. Sandal berbahan serat alam itu dijual seharga Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per pasang.

Pembeli pertamanya adalah teman sang ibu. Transaksi perdana tersebut sekaligus memberikan pelajaran berharga karena datangnya kritik mengenai kerapian dan kekuatan sandal buatannya. Namun, kritik itu justru menjadi bahan bakar bagi Tabita untuk memperbaiki kualitas.

Di tengah upayanya mengasah mutu produk, jalan Tabita bertemu dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM. Keterlibatan INALUM bermula saat Tabita diajak mengikuti pelatihan kriya yang digelar BUMN tersebut di Pantai Indah Situngkir.


Perajin menganyam batang eceng gondok (Eichhornia crassipes) kering menjadi sandal hotel di Desa Parsaoran I, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Foto: Jafar/iNewsMedan.id

Sandal hotel berbahan serat alam karya Tabita langsung memikat perhatian tim pendamping. Sejak saat itu, INALUM intensif mendampinginya. Titik balik pengembangan usahanya terjadi pada September 2024, ketika INALUM membawa Tabita berguru langsung ke sentra olahan eceng gondok di Ambarawa, Jawa Tengah.

Selama tiga hari di Ambarawa, Tabita mempelajari teknik produksi profesional, mulai dari pemotongan presisi hingga cara merajut batang eceng gondok agar menghasilkan sandal bermutu tinggi. Sepulang dari sana, pada Oktober 2024, rasa percaya dirinya tumbuh pesat hingga ia mematenkan merek usahanya: Lettes Eceng Gondok.

”Lettes itu kalau dalam bahasa Batak artinya mulus atau rapi,” kata Tabita. Nama itu diusungnya sebagai standar kualitas bagi setiap karyanya.

Dukungan INALUM semakin mengokohkan bisnisnya menjelang akhir 2024 lewat hibah mesin jahit berkecepatan tinggi (high speed). Bantuan peralatan ini mendongkrak efisiensi produksi Tabita secara signifikan.

Proses Panjang, Naik Kelas, dan Lonjakan Omzet

Proses mengubah gulma menjadi sepasang sandal hotel ramah lingkungan tetap menuntut ketabahan. Tabita mengambil bahan baku eceng gondok di tepi Danau Toba yang tersebar di desa-desa sekitar. Batang eceng gondok dipotong, dipisahkan, lalu dijemur di bawah terik matahari selama sekitar satu minggu hingga kering sempurna sebelum ditenun.

”Sepasang sandal bisa dua mingguan prosesnya. Sekarang untuk ke hotel harga sandal Rp 8 ribuan per pasang,” kata Tabita.

Kerja keras dan perbaikan mutu membuahkan hasil manis pada 2026. Sandal buatan Lettes Eceng Gondok resmi dipasok ke sejumlah hotel di Samosir, seperti Hotel Vantas, Saulina, dan Mariana. Kualitasnya yang rapi membuat pesanan datang bertubi-tubi hingga melampaui kapasitas produksinya saat ini.

“Sebenarnya permintaannya 1.000 pasang per bulan. Cuma saya hanya sanggupnya 300 unit,” ungkap Tabita.

Hotel Mariana bahkan sempat meminta hingga 50.000 unit sandal, namun terpaksa ditunda karena keterbatasan mesin dan tenaga kerja.

Di titik inilah Tabita menyadari usahanya telah naik kelas; tantangan utamanya kini bukan lagi mencari pembeli, melainkan memperbesar kapasitas produksi.

Keberhasilan ini mendongkrak ekonomi keluarganya secara dramatis. Jika tahun lalu omzet bulannya hanya berkisar Rp 2 jutaan, kini pendapatannya melonjak hingga Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per bulan. Selain menjual produk kriya, bekal pelatihan yang diterimanya kini membawa berkah tambahan: Tabita kerap dipercaya menjadi instruktur pelatihan kriya serat alam bagi warga sekitar.

Target Tabita ke depan sudah bulat, menjadi pemasok utama sandal hotel berbahan eceng gondok untuk seluruh hotel di kawasan Samosir dengan menambah mesin jahit serta merangkul ibu-ibu rumah tangga setempat.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network