MEDAN, iNewsMedan.id - Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut), telah menewaskan lima orang sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026.
Pelaksana tugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Tapteng, Lisnawati Panjaitan, mengatakan dari lima orang yang meninggal merupakan dua anak-anak, dua remaja dan satu orang dewasa.
Seluruh pasien yang meninggal sebelumnya telah dianjurkan menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, menurut dia, keluarga pasien menolak perawatan tersebut.
"Lima pasien ini tidak mau dirawat di rumah sakit dan mereka sudah menandatangani surat pernyataan enggan dirawat di rumah sakit," kata Lisna kepada iNewsMedan.id, Selasa (15/9/2026).
Menurut Lisna, hingga September masih terdapat sekitar 15 pasien DBD, namun ia membantah jika kondisi DBD di Tapteng saat ini melonjak.
"Kasus DBD tidak tersebar merata di seluruh Tapanuli Tengah," ucapnya.
Kasus ini bermula dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng. Dalam rilisnya diperoleh pada Selasa, 15 September 2026 menunjukkan 590 kasus DBD selama periode tersebut. Wabah ini mulai meningkat sejak awal tahun dan mencapai titik tertinggi pada Mei dengan 146 kasus.
Pada Januari tercatat 32 kasus dengan satu kematian. Jumlah itu meningkat menjadi 43 kasus pada Februari, 66 kasus pada Maret, dan 109 kasus pada April. Dua pasien meninggal pada April.
Kasus kemudian mencapai 146 orang pada Mei, sebelum turun menjadi 75 kasus pada Juni dan 67 kasus pada Juli. Satu pasien meninggal pada Juli. Pada Agustus, terdapat 52 kasus tanpa kematian.
Secara keseluruhan, lima kematian tercatat pada Januari, Maret, April dan Juli. Tidak ada pasien yang meninggal pada Februari, Mei, Juni dan Agustus.
Sekretaris BPBD Tapteng, Tanti Harahap, mengatakan Jika diakumulasikan dari lima pasien yang meninggal dunia, angkanya mencapai sekitar 0,9 persen.
Data ini juga sedang disesuaikan dengan milik Dinkes Tapteng. "Sedang disesuaikan dengan Dinkes Tapteng agar akurat," Tanti kepada iNewsMedan.id lewat sambungan telepon.
Dinkes Tapteng: Kasus Tidak Melonjak, Namun Pemulihan Sungai Pasca-bencan Jadi Potensi
Lisna mengaitkan potensi peningkatan kasus DBD dengan kondisi pascabencana banjir yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Lisna mengatakan banjir yang berulang dan belum selesainya normalisasi sungai membuat potensi penularan DBD tetap ada.
"Selama normalisasi sungai itu belum selesai, potensi kenaikan ataupun tetapnya angka DBD itu ditemukan masih tetap ada," katanya.
Persoalan lain adalah akses air bersih. Menurut Lisna, sebagian warga yang belum memperoleh air bersih menampung air hujan dalam wadah yang tidak selalu tertutup.
Kondisi tersebut, kata dia, dapat menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk Aedes aegypt, faktor utama penular DBD.
Kasus DBD Tidak Tersebar Merata di Seluruh Tapanuli Tengah
Lisna menyebut wilayah dengan kasus terbanyak berada di daerah yang terdampak bencana, antara lain Kecamatan Pandan dan Tukka. Ia mengatakan jumlah kasus pada September telah menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Data BPBD Sumut menunjukkan kasus DBD telah ditemukan di sedikitnya 11 kecamatan, yakni Badiri, Pandan, Kolang, Sarudik, Tukka, Pinangsori, Lumut, Sibabangun, Pasaribu Tobing, Tapian Nauli dan Sitahuis.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
