Di Indonesia, kanker paru tercatat sebagai kanker dengan angka kejadian dan kematian tertinggi pada laki-laki berdasarkan lembar fakta IARC/GLOBOCAN 2022. Angka kejadiannya mencapai 21,3 per 100.000 penduduk laki-laki, sedangkan angka kematiannya 19,0 per 100.000 penduduk.
Selain kebiasaan merokok, risiko gangguan paru juga dapat meningkat akibat paparan asap rokok orang lain, polusi udara, serta paparan zat tertentu di lingkungan kerja, seperti asbestos, silika dan asap diesel.
"Maka itu, keluhan batuk yang menetap sebaiknya tidak langsung ditangani dengan mengonsumsi obat bebas berulang kali tanpa mengetahui penyebabnya," jelasnya.
Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain batuk yang semakin berat, sesak napas, nyeri dada, batuk berdarah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kelelahan hingga infeksi paru yang berulang.
Namun, kemunculan gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang menderita kanker paru. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Secara klinis, batuk pada orang dewasa yang berlangsung delapan minggu atau lebih umumnya dikategorikan sebagai batuk kronis. Sementara batuk selama tiga hingga delapan minggu masuk kategori subakut dan dapat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, tergantung gejala dan kondisi pasien.
“Pemeriksaan diperlukan untuk mencari penyebab yang tepat, bukan untuk menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan satu gejala,” ujar dr. Mardianto, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, Hospital Director Columbia Asia Hospital Aksara.
Masyarakat, terutama perokok atau mantan perokok, orang yang sering terpapar asap rokok dan polusi, pekerja dengan risiko paparan tertentu, serta mereka yang mengalami gangguan pernapasan berulang, dianjurkan berkonsultasi jika batuk tidak kunjung membaik.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
