Al Fadri yang berada di samping ayahnya juga ikut menangis. Ia mengaku kondisi keluarganya jauh dari gambaran keluarga berkecukupan seperti yang tercermin dalam data desil 6-10.
Tim Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan sebelumnya bahkan telah mendatangi rumah keluarga Surya di Jalan Kapten Muslim, Dwikora, Medan Helvetia, untuk melakukan survei.
Rumah tersebut bukan milik sendiri. Surya dan keluarganya masih menyewa rumah berdinding papan yang sebagian sudah lapuk. Lantainya hanya semen dan sejumlah bagian terlihat retak serta pecah.
Kondisi dapur dan kamar mandi juga sederhana.
Sehari-hari Surya bekerja sebagai buruh harian lepas. Ketika tidak mendapatkan panggilan kerja, ia mencari tambahan penghasilan sebagai pengemudi ojek online. Namun pekerjaannya semakin terbatas karena kondisi tubuhnya yang kerap sakit.
Istrinya juga bekerja sebagai pembantu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah keterbatasan itu, pendidikan Al Fadri menjadi harapan keluarga. Kuliah diharapkan menjadi jalan bagi anak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Persoalan serupa ternyata tidak hanya dialami keluarga Surya.
Pada hari yang sama, puluhan orang tua dan calon mahasiswa datang ke Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan. Mereka membawa persoalan yang hampir sama: peluang mendapatkan KIP Kuliah terhambat karena data desil mereka masih tinggi.
Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 1.000 calon mahasiswa terkendala persoalan desil dan masih menunggu perubahan data agar berpeluang memperoleh KIP Kuliah.
Salah satunya Purnama Siregar. Ia datang bersama putrinya, Christy Natalia Nababan. Hampir sebulan mereka menunggu perubahan data, tetapi desil belum juga bergerak.
“Udah hampir sebulan kami tunggu, nggak berubah juga desilnya. Masih bisanya anakku ini kuliah?” ujar Purnama.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
