Kelompok kedua memfokuskan pembahasan pada kesehatan, sanitasi dan kesiapsiagaan bencana. Warga mengusulkan penyediaan stok obat di lokasi aman, pembangunan gedung evakuasi bertingkat, penyediaan air bersih melalui polytank, jamban portabel, toilet darurat, tenda pengungsian, perahu karet, logistik, serta sistem penyebaran informasi melalui masjid dan kepala dusun.
Sementara itu, kelompok ketiga membahas dampak psikososial akibat banjir. Peserta menilai ibu hamil, bayi, lansia dan warga yang sakit harus menjadi kelompok prioritas saat penanganan bencana. Untuk itu, mereka mengusulkan pendataan kelompok rentan, pembentukan peer support, penyusunan peta kerentanan serta penguatan budaya gotong royong di tingkat desa.
Destanul mengatakan seluruh hasil diskusi kemudian dibahas dalam sidang pleno untuk menentukan program yang paling mendesak. Forum tersebut juga menghasilkan komitmen bersama antara pemerintah desa, masyarakat dan tim USU untuk menindaklanjuti seluruh rekomendasi menjadi dokumen rencana aksi ketangguhan desa.
Ia menambahkan, dokumen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi hasil kajian akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan pemerintah desa sebagai acuan dalam menyusun program pengurangan risiko bencana yang lebih terarah, melibatkan masyarakat, dan berkelanjutan.
FGD diikuti Kepala Desa Padang Tualang Affandi Lubis beserta perangkat desa, kepala dusun, kader PKK, tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok tani, relawan desa, unsur pemuda, mahasiswa pendamping, serta tim dosen Universitas Sumatera Utara. Keterlibatan berbagai unsur itu diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang benar-benar mencerminkan kebutuhan warga dalam menghadapi ancaman banjir yang terus berulang.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
