LANGKAT, iNewsMedan.id – Banjir yang berulang setiap tahun di Desa Padang Tualang, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, mendorong warga menyusun sendiri langkah-langkah prioritas untuk mengurangi dampak bencana. Kesepakatan itu dicapai melalui Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan masyarakat, pemerintah desa, dan tim akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Forum yang berlangsung di Aula Kantor Desa Padang Tualang, Sabtu (1/8/2026), menjadi tahapan penting dalam penyusunan Rencana Aksi Ketangguhan Desa berbasis Livelihood Vulnerability Index (LVI). Berbagai usulan yang muncul berasal dari pengalaman warga yang selama ini terdampak banjir.
Ketua Pelaksana Pengabdian Kolaborasi Internasional USU, Dr. Destanul Aulia, menjelaskan bahwa penyusunan rencana aksi tidak dilakukan secara instan. Sebelum FGD digelar, tim telah melakukan observasi lapangan pada awal Juli untuk memetakan tingkat kerentanan desa terhadap banjir.
Menurut Destanul, hasil observasi menunjukkan banjir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat, sanitasi, ketahanan pangan, mata pencaharian hingga kondisi psikologis warga. Karena itu, seluruh temuan perlu dikonfirmasi langsung melalui diskusi bersama masyarakat agar solusi yang disusun benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
"Pendekatan yang digunakan menempatkan masyarakat sebagai sumber utama informasi. Mereka yang mengalami langsung dampak banjir sehingga masukan yang diberikan menjadi dasar penyusunan rencana aksi," ujarnya, Senin, 3 Agustus 2026.
Dalam FGD, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok pembahasan. Kelompok pertama menyoroti dampak banjir terhadap sektor pertanian, peternakan dan usaha warga. Dari diskusi tersebut muncul usulan pembentukan kelompok ketahanan pangan, pembangunan lumbung pangan desa, posko pangan, pemanfaatan pekarangan produktif, hingga pembentukan relawan ketahanan pangan.
Kelompok kedua memfokuskan pembahasan pada kesehatan, sanitasi dan kesiapsiagaan bencana. Warga mengusulkan penyediaan stok obat di lokasi aman, pembangunan gedung evakuasi bertingkat, penyediaan air bersih melalui polytank, jamban portabel, toilet darurat, tenda pengungsian, perahu karet, logistik, serta sistem penyebaran informasi melalui masjid dan kepala dusun.
Sementara itu, kelompok ketiga membahas dampak psikososial akibat banjir. Peserta menilai ibu hamil, bayi, lansia dan warga yang sakit harus menjadi kelompok prioritas saat penanganan bencana. Untuk itu, mereka mengusulkan pendataan kelompok rentan, pembentukan peer support, penyusunan peta kerentanan serta penguatan budaya gotong royong di tingkat desa.
Destanul mengatakan seluruh hasil diskusi kemudian dibahas dalam sidang pleno untuk menentukan program yang paling mendesak. Forum tersebut juga menghasilkan komitmen bersama antara pemerintah desa, masyarakat dan tim USU untuk menindaklanjuti seluruh rekomendasi menjadi dokumen rencana aksi ketangguhan desa.
Ia menambahkan, dokumen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi hasil kajian akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan pemerintah desa sebagai acuan dalam menyusun program pengurangan risiko bencana yang lebih terarah, melibatkan masyarakat, dan berkelanjutan.
FGD diikuti Kepala Desa Padang Tualang Affandi Lubis beserta perangkat desa, kepala dusun, kader PKK, tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok tani, relawan desa, unsur pemuda, mahasiswa pendamping, serta tim dosen Universitas Sumatera Utara. Keterlibatan berbagai unsur itu diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang benar-benar mencerminkan kebutuhan warga dalam menghadapi ancaman banjir yang terus berulang.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
