Empat Pilar Pertahanan Siber untuk Menghadapi Ancaman di Era Cloud

Jafar
Associate Director IT & Digital BDO Indonesia, Reza Aminy, memaparkan empat pilar ketahanan siber untuk menghadapi ancaman di era cloud. Foto: Istimewa

JAKARTA, iNewsMedan.id - Perkembangan pesat teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa peluang besar sekaligus risiko siber yang masif bagi dunia bisnis. Kasus serangan siber yang merugikan sektor finansial pada awal tahun ini menjadi peringatan keras bagi jajaran eksekutif perusahaan untuk menjaga reputasi merek dan stabilitas operasional.

Pada Februari 2026, salah satu bank daerah di Indonesia mengalami kerugian besar akibat serangan auto-debit massal oleh peretas (hacker) yang menguras Rp143 miliar dari lebih dari 6.000 rekening nasabah. Untuk memitigasi dampak kerusakan tersebut, bank terpaksa membekukan akses mobile banking dan ATM nasabah selama berbulan-bulan.

Menanggapi fenomena ancaman siber yang kian mengkhawatirkan, Reza Aminy, Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, menyampaikan pandangannya. "Investigasi menunjukkan bahwa insiden tersebut dipicu oleh beberapa faktor, seperti kegagalan keamanan kritis—termasuk sistem TI yang belum diperbarui sejak 2012—tata kelola yang lemah tanpa Security Operation Centre (SOC) 24 jam, serta risiko vendor yang tidak dikelola dengan baik. Kerugian Rp143 miliar harus ditutup menggunakan laba tahun lalu, yang menegaskan realitas pahit bahwa biaya pemulihan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan," ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Lanskap ancaman siber saat ini bergeser sangat cepat. Celah antara pengungkapan kerentanan (vulnerability) dan eksploitasi massal telah menyusut dari hitungan minggu menjadi hanya beberapa hari. Di lingkungan cloud, kompromi identitas kini menjadi landasan dari 83% intrusi utama. Para penyerang memanfaatkan rekayasa sosial berbasis suara (vishing), mencuri token otentikasi, serta menyalahgunakan jalur pipeline CI/CD untuk mendapatkan akses administratif penuh dalam hitungan jam.

"Di sisi lain, meskipun AI meningkatkan produktivitas, teknologi ini bagaikan pisau bermata dua yang memperkenalkan risiko privasi kompleks dan memfasilitasi pelaku kejahatan siber," tambah Reza.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network