Salah satu inovasi yang diapresiasi Rico adalah Safe Key Chain, perangkat berbasis GPS dengan sistem pull lever karya mahasiswa yang dirancang untuk membantu penyandang disabilitas sensorik (tuli dan bisu) mengirimkan sinyal darurat secara efektif. "Teknologi bukan hanya soal kecanggihan, tetapi bagaimana memberikan solusi nyata bagi masyarakat," tegasnya.
Sementara itu, Kepala BRIDA Kota Medan, Benny Iskandar, menyampaikan bahwa pertemuan ini adalah bentuk apresiasi Pemko Medan bagi 211 siswa dan mahasiswa yang tergabung dalam 31 tim berprestasi di Malaysia dan Thailand.
Untuk mendukung keberlanjutan prestasi tersebut, BRIDA meluncurkan program AMPiBI (Anak Medan Berprestasi Internasional di Bidang IPTEK). Peserta program ini akan mendapatkan Kartu Tanda Anggota Inovator Muda serta pembinaan berkelanjutan melalui bimbingan teknis dan pelatihan. Selain itu, terdapat pula program Kulit Muda (Kumpulan Peneliti dan Inovator Muda Kota Medan) dan Klinova (Klinik Inovasi) sebagai platform konsultasi bagi perangkat daerah.
Di akhir acara, sebagai bentuk motivasi, Rico Waas menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh siswa dan mahasiswa berprestasi. Ia berharap, capaian ini menjadi langkah awal lahirnya inovator besar yang mampu membawa kemajuan bagi daerah serta menjadi calon pemimpin masa depan berbasis teknologi.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
