Harga Tomat dan Cabai Menggila, Inflasi Sumut Tembus 4,35 Persen

Isnaini Kharisma
Harga Tomat dan Cabai Menggila, Inflasi Sumut Tembus 4,35 Persen. Foto: Kharisma/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id - Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai dan tomat menjadi penyebab utama pendorong inflasi di Sumatera Utara (Sumut). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Mei 2026 mencapai 4,35 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 1,11 persen. 

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra mengatakan,  Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumut naik dari 108,29 pada Mei 2025 menjadi 113,00 pada Mei 2026. Selain inflasi tahunan, Sumut juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,89 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 0,67 persen.

"Untuk inflasi tahunan ini terjadi disebabkan kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 7,11 persen," kata Asim Saputra dalam laporan resmi BPS Sumut, Kamis (4/6/2026).

Dia menjelaskan, dari sebelas kelompok pengeluaran yang dipantau, seluruhnya mengalami kenaikan harga. Tak hanya kelompok makanan, inflasi tinggi juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,73 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,49 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 3,22 persen.

Selain itu, BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan di Sumut. Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,57 persen, disusul tomat sebesar 0,29 persen, beras 0,24 persen, cabai merah 0,18 persen, serta berbagai jenis ikan konsumsi seperti ikan dencis, ikan kembung, dan ikan tongkol.

Kemudian, kenaikan harga minyak goreng, daging ayam ras, biaya pendidikan perguruan tinggi, angkutan udara, cabai rawit, telur ayam ras, hingga telepon seluler juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan.

Secara bulanan, inflasi Mei 2026 terutama dipicu oleh lonjakan harga tomat yang memberikan andil terbesar sebesar 0,34 persen, diikuti cabai merah sebesar 0,31 persen dan bawang merah sebesar 0,09 persen.

"Adapun kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura masih menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi pada Mei 2026," jelas Asim.

Asim mengungkapkan, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi. Penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, udang basah, angkutan udara, ikan kembung, emas perhiasan, bawang putih, dan sejumlah komoditas pangan lainnya.

Berdasarkan wilayah, seluruh kabupaten dan kota yang menjadi sampel IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan pada Mei 2026. Kota Gunungsitoli mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,35 persen dengan IHK 115,10. Sementara Kabupaten Karo menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,98 persen dengan IHK 112,81.

Untuk inflasi bulanan, seluruh daerah juga mengalami kenaikan harga, dengan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Deli Serdang.

Asim menambahkan, tren inflasi tahun ini menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, inflasi tahunan Sumut pada Mei 2024 tercatat 4,26 persen, kemudian turun menjadi 1,11 persen pada Mei 2025, sebelum kembali meningkat menjadi 4,35 persen pada Mei 2026.

"Keadaan ini harus ada perhatian terhadap stabilitas pasokan dan distribusi komoditas pangan strategis agar tekanan inflasi dapat dikendalikan," ungkapnya. 

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network