MEDAN, iNewsMedan.id– Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Di tengah tingginya angka kasus tersebut, para tenaga kesehatan terus mendorong peningkatan kualitas penanganan stroke, mulai dari deteksi dini, sistem rujukan yang cepat, hingga pemanfaatan teknologi medis modern untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Hospital Director Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, dr. Maria Christina Abiwiyanti, MARS, mengatakan penanganan stroke saat ini tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan dokter dalam memberikan terapi. Keberhasilan penyelamatan pasien juga ditentukan oleh kecepatan diagnosis, efektivitas sistem rujukan, serta kolaborasi berbagai disiplin ilmu.
“Dalam kasus stroke, setiap detik sangat berharga. Karena itu, penting bagi seluruh jaringan layanan kesehatan memiliki pemahaman yang sama mengenai standar penanganan stroke agar pasien dapat memperoleh tindakan yang cepat dan tepat,” ujar Maria di sela kegiatan Siloam Medan Clinical Update (SMCU) 2026 di Medan, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, konsep time is brain atau waktu adalah otak masih menjadi prinsip utama dalam penanganan stroke. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan medis, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan otak permanen dan menurunkan risiko kecacatan.
Maria menjelaskan, banyak pasien stroke datang ke rumah sakit setelah melewati masa emas penanganan akibat keterlambatan mengenali gejala maupun lambatnya proses rujukan. Padahal, gejala stroke seperti wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, hingga gangguan keseimbangan harus segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Perkembangan teknologi kesehatan juga telah mengubah tata laksana stroke dan penyakit neurovaskular dalam beberapa tahun terakhir. Selain terapi obat, kini tersedia berbagai prosedur neurointervensi yang memungkinkan dokter menangani penyumbatan maupun kelainan pembuluh darah otak dengan teknik minimal invasif.
Kemajuan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum ilmiah yang digelar Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI. Forum tersebut menghadirkan sejumlah pakar nasional dan internasional untuk membahas perkembangan terbaru dalam penanganan stroke dan penyakit neurovaskular.
Salah satu pembicara internasional, Naoto Kimura, M.D., Ph.D., Hospital Director Nansho Hospital Jepang, memaparkan perkembangan terapi endovaskular untuk aneurisma otak. Teknik ini memungkinkan penanganan kelainan pembuluh darah otak dilakukan melalui akses pembuluh darah tanpa operasi terbuka, sehingga risiko komplikasi dan masa pemulihan pasien dapat ditekan.
Sementara itu, sejumlah pakar nasional membahas berbagai aspek penanganan penyakit saraf, mulai dari tata laksana stroke komprehensif, deteksi dini tumor otak dan tulang belakang, hingga pentingnya pemeriksaan radiologi dalam menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.
Sebagai salah satu pusat layanan stroke dan neurovaskular di Sumatera, Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan saat ini menerima rujukan pasien dari berbagai daerah. Kehadiran layanan neurointervensi modern memungkinkan sejumlah kasus neurologi kompleks ditangani di Medan tanpa harus dirujuk ke luar provinsi maupun luar negeri.
Rumah sakit tersebut juga baru meraih sertifikasi Advanced Stroke Centre dari World Stroke Organization, menjadikannya rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang memperoleh pengakuan tersebut. Sertifikasi ini menunjukkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadirkan layanan stroke komprehensif, mulai dari diagnosis cepat, tindakan neurointervensi, hingga rehabilitasi yang terintegrasi.
Meski teknologi dan layanan kesehatan terus berkembang, para dokter mengingatkan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif. Mengendalikan tekanan darah, gula darah, kolesterol, berhenti merokok, aktif berolahraga, serta menjaga pola makan sehat menjadi cara utama untuk menurunkan risiko stroke.
“Teknologi dapat membantu meningkatkan keberhasilan pengobatan, tetapi kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala stroke dan segera mencari pertolongan medis tetap menjadi faktor yang paling menentukan,” kata Maria.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
