Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?
Pada musim timur, sekitar April hingga Agustus atau September, hasil tangkapan biasanya lebih baik. Dalam sehari, Badrun mengatakan, nelayan terkadang bisa membawa pulang Rp500.000 hingga Rp1 juta.
“Itu masa saya menabung,” ujarnya.
Uang tersebut menjadi cadangan untuk melewati masa paceklik. Kini, ketika musim tangkapan menurun, udang semakin sulit ditemukan dan penghasilan kembali menyusut.
Bagi Badrun, berkurangnya hasil laut berarti berkurangnya uang yang dapat dibawa pulang ke rumah.
“Itu tempat kami menabung,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan pendangkalan perairan yang menurutnya berkaitan dengan reklamasi. Perairan yang semakin dangkal, kata dia, membuat air lebih keruh dan alirannya berkurang.
Di tengah perubahan itu, mangrove tetap menjadi bagian dari kehidupan warga. Pohonnya bahkan dimanfaatkan nelayan sebagai tonggak rumah.
“Hidup kami tergantung pada pohon mangrove. Kalau mangrovenya punah, maka punahlah kami,” kata Badrun.
Editor: Jafar Sembiring