Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hari Mangrove Sedunia 2026, Kelompok Tani Tanam 24.000 Mangrove Pulihkan Ekosistem Pesisir
Advertisement . Scroll to see content

Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?

Sabtu, 26 September 2026 | 19:33 WIB
  • author Junaidin Zai
Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?
Irwansyah (50), nelayan tradisional di kampung nelayan sebrang, kecamatan Medan Belawan, kota Medan, ketika diwawancarai, Jumat (25/9/2026). Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id

Pada musim timur, sekitar April hingga Agustus atau September, hasil tangkapan biasanya lebih baik. Dalam sehari, Badrun mengatakan, nelayan terkadang bisa membawa pulang Rp500.000 hingga Rp1 juta.

“Itu masa saya menabung,” ujarnya.

Uang tersebut menjadi cadangan untuk melewati masa paceklik. Kini, ketika musim tangkapan menurun, udang semakin sulit ditemukan dan penghasilan kembali menyusut.

Bagi Badrun, berkurangnya hasil laut berarti berkurangnya uang yang dapat dibawa pulang ke rumah.

“Itu tempat kami menabung,” katanya.

Ia juga mengkhawatirkan pendangkalan perairan yang menurutnya berkaitan dengan reklamasi. Perairan yang semakin dangkal, kata dia, membuat air lebih keruh dan alirannya berkurang.

Di tengah perubahan itu, mangrove tetap menjadi bagian dari kehidupan warga. Pohonnya bahkan dimanfaatkan nelayan sebagai tonggak rumah.

“Hidup kami tergantung pada pohon mangrove. Kalau mangrovenya punah, maka punahlah kami,” kata Badrun.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut