Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hari Mangrove Sedunia 2026, Kelompok Tani Tanam 24.000 Mangrove Pulihkan Ekosistem Pesisir
Advertisement . Scroll to see content

Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?

Sabtu, 26 September 2026 | 19:33 WIB
  • author Junaidin Zai
Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?
Irwansyah (50), nelayan tradisional di kampung nelayan sebrang, kecamatan Medan Belawan, kota Medan, ketika diwawancarai, Jumat (25/9/2026). Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id — Setiap Jumat, Irwansyah tidak melaut. Nelayan tradisional berusia 50 tahun yang tinggal di Kampung Nelayan Seberang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, itu baru kembali melempar jala keesokan harinya.

Belakangan, melaut tak lagi selalu berarti membawa pulang penghasilan. Ikan, kepiting, dan udang yang didapat semakin sedikit. Sebagian nelayan bahkan menggunakan perahunya untuk menyeberangkan warga demi memperoleh penghasilan tambahan.

Anak-anak muda memilih merantau. Yang bertahan di kampung harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar biaya sekolah anggota keluarga.

“Kelihatannya hidup kami biasa-biasa saja. Tapi pada hakikatnya sangat sulit hari ini,” ujar Irwansyah, Jumat (25/9/2026).

Menurut Irwansyah, perubahan fungsi lahan di kawasan pesisir mulai terasa sejak sekitar 2008. Dampaknya tidak langsung terlihat karena perubahan berlangsung perlahan. Namun, dalam sekitar satu dekade terakhir, ruang yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan semakin terbatas.

Kawasan tangkap juga didatangi nelayan dari daerah lain. Irwansyah tidak mempersoalkan keberadaan mereka. Ia hanya berharap ruang tangkap ditata agar keterbatasan wilayah tidak berkembang menjadi perselisihan.

“Harapannya memang ini harus ditatalah. Jangan sampai jadi konflik sosial,” katanya.

Perubahan pesisir juga membuat warga khawatir terhadap mangrove. Bagi nelayan, vegetasi itu bukan sekadar tanaman yang tumbuh di tepi perairan. Mangrove menjadi bagian dari ekosistem tempat ikan dan udang berkembang.

Sejumlah warga, termasuk Irwansyah, mencoba menanam kembali mangrove. Upaya itu dilakukan ketika kehidupan mereka semakin bergantung pada pesisir yang terus berubah.

Dari atas titian kayu Kampung Nelayan Seberang, perubahan itu terlihat bersisian dengan kehidupan warga. Rumah-rumah kayu berdiri di atas tiang yang ditancapkan ke perairan dangkal. Air kecokelatan menggenang di bawah bangunan. Batang kayu dan bagian mangrove yang mati terlihat di sekitar permukiman.

Di salah satu rumah, Badrun, 49 tahun, sedang bertukang. Hari itu ia tidak melaut.

Sudah tiga hari pekerjaan rumah tersebut ditinggalkan. Ia kembali mengerjakannya karena melaut tidak selalu menghasilkan uang yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Bahan bakar dan kebutuhan selama berada di laut tetap harus dibayar, sementara hasil tangkapan belum tentu cukup untuk menutupnya.

“Kalau Rp100.000 itu mungkin habis selesai di jalan,” kata Badrun.

Pada musim timur, sekitar April hingga Agustus atau September, hasil tangkapan biasanya lebih baik. Dalam sehari, Badrun mengatakan, nelayan terkadang bisa membawa pulang Rp500.000 hingga Rp1 juta.

“Itu masa saya menabung,” ujarnya.

Uang tersebut menjadi cadangan untuk melewati masa paceklik. Kini, ketika musim tangkapan menurun, udang semakin sulit ditemukan dan penghasilan kembali menyusut.

Bagi Badrun, berkurangnya hasil laut berarti berkurangnya uang yang dapat dibawa pulang ke rumah.

“Itu tempat kami menabung,” katanya.

Ia juga mengkhawatirkan pendangkalan perairan yang menurutnya berkaitan dengan reklamasi. Perairan yang semakin dangkal, kata dia, membuat air lebih keruh dan alirannya berkurang.

Di tengah perubahan itu, mangrove tetap menjadi bagian dari kehidupan warga. Pohonnya bahkan dimanfaatkan nelayan sebagai tonggak rumah.

“Hidup kami tergantung pada pohon mangrove. Kalau mangrovenya punah, maka punahlah kami,” kata Badrun.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut