Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sambut Piala AFF U-19, Wali Kota Medan dan Forkopimda Bahu-membahu di Stadion
Advertisement . Scroll to see content

Pagi Terik, Sore Hujan: Pendapatan Pedagang di Medan Sulit Ditebak

Minggu, 20 September 2026 | 13:35 WIB
  • author Junaidin Zai
Pagi Terik, Sore Hujan: Pendapatan Pedagang di Medan Sulit Ditebak
Irwan (58), pedang es kelapa di kawasan Stadion Teladan, Kecamatan Medan Kota, ketika menyiapkan satu gelas es kelapa, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id).

MEDAN, iNewsMedan.id - Pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) mengatakan, cuaca beberapa pekan terakhir berubah dengan cepat. Panas pada pagi hingga siang hari dapat disusul hujan pada sore hari, kondisi itu turut memengaruhi pendapatan pedagang yang mengandalkan keramaian ruang terbuka.

Di kawasan Stadion Teladan, Kecamatan Medan Kota, Irwan (58) sedang melayani pembeli, sudah hampir 30 tahun berjualan di sana, ia terbiasa menjual sekitar 60 hingga 70 butir kelapa dalam sehari ketika cuaca panas.

Namun dalam kondisi cuaca seperti sekarang, penjualannya turun menjadi sekitar 40 hingga 50 butir. Irwan mengatakan kondisi seperti itu mulai dirasakannya sekitar dua bulan terakhir, termasuk sejak Agustus.

“Berkurang juga. Tidak seperti biasa. Biasanya satu hari kalau panas 60–70 biji kelapa habis. Sejak musim hujan ini kadang-kadang 40–50 biji,” kata Irwan.

Menurut Irwan, persoalan terbesar bukan hanya hujan, melainkan waktu turunnya hujan yang sulit diperkirakan.

Ia mengatakan stok kelapa yang biasanya habis dalam satu atau dua hari kini dapat membutuhkan waktu hingga tiga atau empat hari untuk terjual.

“Kadang kita ambil 150 biji. Biasanya untuk satu hari atau dua hari, paling lama dua hari. Tapi ini karena musim hujan, mau tiga sampai empat hari baru habis,” ujarnya.

Dampaknya paling terasa ketika hujan turun pada sore hari, saat pengunjung Taman Teladan biasanya mulai ramai.

“Biasanya sore orang habis jogging, keliling, lari, minum es kelapa muda. Kalau sudah sore hujan, mau ke mana lagi orang jalan? Bubar,” kata Irwan.

Menjelang sore, kawasan Taman Teladan mulai ramai, setelah stadion itu kembali berfungsi, aktivitas di ruang terbukannya dimanfaatkan warga untuk berolahraga, berkegiatan, atau sekadar menikmati suasana sore.

Ditengah suasana itu, tidak sedikit pula pedagang minuman berjualan.

Tidak jauh dari lapak Irwan, Rika (41) akan mulai berjualan sekitar pukul 15.00, ia menjual air mineral, minuman dingin, dan minuman anak-anak dengan harga sekitar Rp2.000. Akan tetapi, kata Rika, pendapatannya pada September menurun dibandingkan sebelumnya.

Dalam kondisi normal, ia menyebut pendapatannya dapat mencapai sekitar Rp250 ribu sehari.

Namun ketika hujan turun dan cuaca berubah cepat, pendapatannya terkadang hanya Rp50 hingga sekitar Rp70 ribu-an, bahkan tidak ada sama sekali.

Ketika hujan tiba-tiba turun, tidak banyak yang dapat dilakukan selain menghentikan aktivitas berjualan.

“Ya sudah kacaulah, enggak ada lagi penjualan. Tinggal pulang,” ujarnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut mulai terasa sejak memasuki September.

Bagi pedagang yang mengandalkan pembeli di ruang terbuka, hujan bukan hanya berarti perubahan aktivitas, tetapi juga risiko barang yang sudah dibawa untuk dijual tidak habis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi atmosfer di Sumatera Utara sedang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Ketua Tim Sistem Peringatan Dini Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I Medan, Martha Rosefina Manurung, mengatakan gelombang atmosfer yang aktif, belokan angin, dan konvergensi angin di sepanjang pantai barat hingga pegunungan Sumatera Utara dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Sumatera Utara.

BMKG memperkirakan hujan pada siang hingga malam masih berpotensi terjadi di Sumatera Utara pada periode 14–21 September 2026.

Untuk periode 18–21 September, Sumatera Utara termasuk wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang.

Sementara itu, prediksi curah hujan bulanan BMKG menempatkan Kota Medan pada kategori curah hujan menengah, sekitar 100–300 milimeter selama September 2026.

Perubahan cuaca yang berlangsung dalam hitungan jam membuat masyarakat harus menyesuaikan aktivitasnya. Bagi pedagang kaki lima, dampaknya dapat langsung terlihat dalam pendapatan harian.

Irwan mengatakan pedagang makanan yang baru mulai berjualan pada siang atau sore hari juga menghadapi persoalan serupa.

“Misalnya teman sate sampai sore, magrib lumayan jual belinya. Tapi tahu-tahu sore hujan. Akhirnya terpaksa keliling,” katanya.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut