Redam Polemik, Ketua Yayasan Jelaskan Sejarah dan Fungsi Gedung Chapel USU
Sejarah mencatat, pembangunan Chapel ini mendapat perhatian serius. Pada tahun 1988, Presiden RI Soeharto memberikan bantuan sebesar Rp15 juta untuk mendukung pembangunannya, yang disalurkan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kota Medan saat itu.
Seiring waktu, fungsi Chapel terus berkembang. Pada tahun 2015, renovasi total dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan civitas akademika yang lebih modern. Proses ini dimotori oleh yayasan dan alumni, serta didukung oleh arsitek-arsitek profesional.
Prof. Ningrum, didampingi Ketua PIWK USU Prof. Dr. Robert Sibarani, menegaskan bahwa rencana renovasi yang sedang diusulkan saat ini bertujuan untuk menyempurnakan sarana pelayanan, menambah ruang serba guna, menyediakan working station, serta langkah mitigasi terhadap ancaman banjir yang kerap melanda lingkungan kampus.
Ia juga meluruskan bahwa Chapel USU memiliki kekhasan, yakni fokus pada kehidupan kerohanian civitas akademika di lingkungan kampus USU, serta bekerja sama dengan organisasi kerohanian lain seperti PHBK dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kristen di 15 fakultas.
"Kami berharap tidak ada lagi narasi yang mengaitkan rencana renovasi ini dengan isu pelarangan ibadah atau perebutan kekuasaan. Keberadaan Chapel ini murni untuk kebutuhan kegiatan keimanan civitas akademika USU yang beragama Kristen, bukan bangunan gereja dengan jemaat tetap di luar lingkungan kampus," pungkas Prof. Ningrum.
Editor : Jafar Sembiring