Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tantangan Kebijakan Kuliah Gratis PTN: Bagaimana Nasib Mahasiswa dan Kampus Swasta di Sumatera Utara
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Sekadar Teknologi, Transisi Energi di Sumut Harus Berbasis Kemanusiaan dan Fikih

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:36 WIB
  • author Jafar Sembiring
Bukan Sekadar Teknologi, Transisi Energi di Sumut Harus Berbasis Kemanusiaan dan Fikih
Workshop transisi energi di Medan soroti dampak PLTU batu bara dan dorong penggunaan energi bersih di Sumatera Utara, Kamis (12/3/2026). Foto: Istimewa

Ketua Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti, merujuk pada penelitian Universitas Harvard, polusi pembakaran batu bara adalah kontributor utama kematian prematur di dunia. 

Di Sumatera Utara, dampak ini bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas harian di Pangkalan Susu. "Di sana, debu hitam sudah dianggap biasa. Itu adalah pengorbanan masyarakat tingkat bawah agar kita bisa menikmati listrik dengan suka-suka," ujar Sumiati pedas,

Ia memaparkan, suhu air laut mencapai 42 derajat Celcius akibat limbah PLTU pada jam-jam tertentu, yang menghancurkan ekosistem mangrove dan memaksa nelayan menjadi pekerja migran karena laut tak lagi memberi penghidupan.

Nur Hayati, warga Pangkalan Susu yang hadir sebagai saksi hidup, menambahkan dengan suara bergetar, "Kami yang bertiga di sini adalah sisa-sisa hidup dari Pangkalan Susu. Keluarga kami habis karena kanker dan paru-paru hitam. Kami mati pelan-pelan," ungkapnya.

Menanggapi penjelasan warga, Kepala Bapperida Sumut, Dikky Anugerah Panjaitan, melontarkan kritik pedas terhadap tren global. Ia menyoroti bagaimana negara-negara maju yang dahulu merusak lingkungan lewat revolusi industri, kini justru mendikte negara berkembang dengan isu "energi bersih" sambil menjual produk teknologinya.

"Dulu mereka memporak-porandakan hutan untuk pabrik. Sekarang saat kita mau maju, isunya digeser. Kita disuruh pasang panel surya, tapi yang buat Jepang. Akhirnya kita tetap jadi objek, bukan subjek," tegas Dikky.

Ia mendorong agar organisasi besar seperti Al Washliyah melakukan riset mandiri agar Sumatera Utara mampu memproduksi teknologi energinya sendiri. Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Sumut tengah merancang insentif ekstrem bunga 0% bagi perusahaan yang bermitra dalam implementasi SDGs dan ekonomi hijau.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut