Indonesia Kaya Raya, Kenapa Masih Impor Pangan? Ini Jawabannya
Menurutnya bukan hanya sayur dan buah yang mendominasi impor ke Indonesia, daging sapi, susu, beras dan gandum juga masih bergantung pada pasokan negara luar seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, Thailand dan Vietnam. Kondisi tersebut sungguh sangat paradoks dengan kondisi kekayaan yang dimiliki Indonesia yakni luas lahan tanam yang terluas ke-6 di dunia, tanahnya subur dan bisa bercocok tanam sepanjang tahun.
“Lalu kenapa ini terjadi? Karena kita belum prioritaskan pendidikan,” ujar Sofyan Tan di hadapan siswa SMA.
Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju yang menjadi eksportir pangan umumnya memiliki teknologi pertanian yang kuat. Teknologi tersebut lahir dari sumber daya manusia yang terdidik serta didukung oleh riset yang berkembang di perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan tinggi yang berkualitas dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat merupakan fondasi penting untuk menciptakan inovasi dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Untuk itu Sofyan Tan mengingatkan, setiap anak yang lulus SMA maupun SMK harus lanjut ke perguruan tinggi dan memilih kampus yang berkualitas dan bermutu serta banyak melakukan riset. Dari riset-riset yang dilahirkan perguruan tinggi akan menciptakan teknologi. Dari teknologi tersebut, dapat menunjang kualitas dan kuantitas hasil panen pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya. Dengan demikian Indonesia sudah tidak lagi impor bahan pangan tapi sudah menjadi pengekspor terbesar bahan pangan di dunia.
“Kuliahlah hingga S3, bikin riset sebanyak-banyaknya hingga bisa menciptakan teknologi yang dapat membantu menaikkan kualitas dan kuantitas hasil panen,” ujarnya.
Editor : Ismail