Hidup atau Mati Dihargai 500 Gulden, Jenderal Kopassus Ini Buat Pasukan Belanda Frustrasi di Papua

Benny dan pasukannya harus menghadapi ganasnya alam Papua serta pasukan Belanda sekaligus. Salah satu pertempuran terjadi pada 28 Juni 1962 di mana dua perahu motor Marinir Belanda tiba-tiba menyerang pasukan Benny yang sedang beristirahat di pinggir Sungai Kumbai sehingga pertempuran jarak dekat tak bisa dielakkan.
Saat menyelamatkan diri, Benny berhasil membawa serta senjata, radio, dan dokumen penting yang terikat di tubuhnya. Sementara jaket yang dia kenakan terlepas.
Dalam buku "Kopassus untuk Indonesia", Benny dan pasukannya disebut berhasil menggagalkan sergapan pasukan Belanda itu.
"Yang dipakai Benny strategi kucing. Kalau bertempur ya bertempur, kalau tidak kucing-kucingan. Tujuan kami sebagai umpan supaya Belanda memecah konsentrasi di Biak terbukti berhasil," kata Brigjen TNI (Purn) Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi yang ikut dalam Operasi Naga tersebut.
Pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda di pedalaman Papua terus berlangsung. Bahkan Belanda mengumumkan akan memberi 500 gulden bagi siapa saja yang bisa menangkap Kapten Benny. Pengumuman itu dia lihat pada pamflet yang banyak terpasang di rumah warga di mana ada foto dirinya dan Benny.
"Sebanyak 500 gulden untuk informasi atau menangkap keduanya hidup atau mati," katanya.
Upaya menangkap Benny yang dilakukan Belanda terus gagal hingga akhirnya gencatan senjata berlangsung. Pada 17 Agustus 1962, Benny dan pasukannya dijamu makan di markas Marinir Belanda di Merauke.
Editor : Odi Siregar