Ketiga, mengembangkan agroforestri sebagai bagian dari koridor satwa sekaligus kawasan pakan di koridor Peusangan-Cot Girek. Keempat, mendorong usulan perhutanan sosial di lanskap POCUT sebagai salah satu alternatif peningkatan ekonomi masyarakat.
“Pengembangan ekonomi menjadi salah satu alat konservasi,” kata Ahmad.
Menurut dia, pelaksanaan program akan menggunakan pendekatan lanskap yang memadukan penguatan kebijakan, pengembangan ekonomi masyarakat, kemitraan strategis, penggunaan sains, dan partisipasi masyarakat.
Karena itu, keberhasilan upaya tersebut tidak hanya bergantung pada organisasi konservasi. Pemerintah, masyarakat, akademisi, pemegang izin, dan berbagai pihak lain perlu terlibat dalam pengelolaan ruang yang menjadi habitat maupun jalur pergerakan gajah.
Prof. Dr. Abdullah, M.Si. dari Pusat Riset Konservasi Gajah dan Biodiversitas Hutan Universitas Syiah Kuala mengatakan, penting mengubah cara pandang dalam menangani persoalan gajah dan manusia.
Menurut dia, koeksistensi membutuhkan pengaturan ruang yang memungkinkan manusia dan gajah tetap hidup dengan mengurangi risiko interaksi negatif. Konsep berbagi ruang, pengurangan risiko, dan perlindungan habitat menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut.
Ia juga menjelaskan pentingnya koridor gajah untuk menghubungkan kembali core area atau kawasan inti yang terpisah. Koridor tersebut menjadi ruang yang memungkinkan gajah berpindah dari satu kawasan habitat ke kawasan lainnya sesuai kebutuhan ekologisnya. Dengan demikian, konservasi gajah tidak cukup hanya dengan menjaga kawasan inti.
Konektivitas antarkawasan juga perlu dipertahankan agar habitat tidak berubah menjadi pulau-pulau yang terisolasi.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Aceh, T. Irmansyah, mengatakan pemerintah telah memiliki landasan kebijakan baru dalam penanganan gajah sumatera. Ia merujuk pada Instruksi Presiden RI Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan sebagai dasar bagi berbagai pihak untuk terlibat dalam penyelamatan habitat dan populasi gajah.
Pihaknya mencatat sejumlah kantong habitat gajah dengan estimasi populasi yang berbeda. Data yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut mencakup Ulu Masen Utara dengan sekitar 268–316 individu, Woyla Timur-Sungai Mas-Pante Ceureumen-Beutong sekitar 35–40 individu, serta Alue Buloh-Cot Girek-Geureudong-Paya Bakong sekitar 40–60 individu.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
