Bertahan dalam Sakit, Pengorbanan Tengku Zamansyah Menjadi Badut Demi Pendidikan Anak

Junaidin Zai
Tengku Rabiul Zamansyah (57), duduk beristirahat di samping kostum badut yang biasa digunakannya untuk mencari nafkah di jalanan. Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id - Tengku Rabiul Zamansyah masih menjadi kuli bangunan pada tahun 2023 lalu, Namun ketika ia sedang bekerja di salah satu kampus ternama di Kota Medan, nahas menimpanya. Zamansyah terjatuh dari ketinggian sekitar delapan meter.

Kurang lebih delapan bulan Zamansyah tidak bekerja. Pinggangnya sakit betul kala itu. Bergerak sedikit saja rasa ngilu datang. Tak tertahankan. Ketika membuka mulut, bagian rahang akan terasa sakit. Bahkan jangkauan penglihatannya pun turut berkurang.

Zamansyah sempat dirawat di rumah sakit, akan tetapi uang tabungan serta pemberian dari pemborong tidak cukup. Tak benar-benar pulih, Zamansyah dirawat oleh istrinya, Sariani br Rangkuti (55).

Istri tercintanya itu, katanya, sudah lama menderita gula, darah tinggi, dan sakit jantung. Satu hal yang paling ia sesali adalah membuat susah ibu dari dua orang anaknya itu.

Pada hari-hari berikutnya Zamansyah mulai mampu bergerak, meski secara perlahan. Dengan gerak terbatas dan pinggangnya yang masih nyeri, ia memutuskan untuk menjadi penarik becak mesin.

Walau pendapatannya tak seberapa, ia menjalani profesi penarik becak dengan tekun. Semua demi keluarga dan pendidikan anak-anaknya.

Lama Menahan Sakit, Kehidupan Terasa Semakin Penat

Sudah setengah tahun Zamansyah menjalani kehidupan sebagai penarik becak. Selama itu pinggangnya tetap terasa sakit. Suatu hari, sakit pinggang itu tak tertahan lagi. Menarik becak menuntutnya banyak bergerak. Sungguh, katanya, sakitnya luar biasa.

Situasi yang dihadapi Zamansyah dilematis. Di satu sisi tubuhnya menanggung derita, sisi lainnya kehidupan harus terus berlangsung. Hingga akhirnya ia berani mengambil sebuah keputusan.

"Saya jual becak itu. Laku Rp2,5 juta dan Rp1 juta saya belilah kostum badut ini," ucap Zamansyah ketika berbincang dengan iNewsMedan.id, di Jalan Senam, Sabtu (5/9/2026). 

Kini, empat tahun setelah kejadian nahas yang menimpanya, pria yang sudah berusia 57 tahun ini, tabah menjalani kehidupan sebagai badut jalanan.

Zamansyah memiliki hunian di kawasan Mandala, Kecamatan Medan Denai. Setiap hari ia berjalan kaki dari sana ke pusat keramaian. Misalnya di Jalan Bromo, kawasan Pasar Merah, dan Teladan.

Pendapatannya tak pernah pasti. Terkadang bisa Rp70 ribu dan terkadang Rp80 ribu. Maklum banyak orang yang tidak suka dengan keberadaannya.

"Saya sering diusir, gak boleh masuk ke warkop. Hampir tiap hari ngalamin yang gituan," ucap Zamansyah.

"Saya pulang kalau udah capek. Kalau ada uang naik angkot atau becak. Kalau enggak numpang, kalau enggak ada jalan kaki," sambungnya.

Tak Pernah Memilih Menjadi Badut

Sejak menjadi badut jalanan Zamansyah menyadari betul istri dan kedua anaknya tidak rela, meski mereka tidak pernah langsung melarangnya.

"Sebetulnya mereka pun sedih juga, nengok saya kayak gini. Tapi kayak mana, yang sejengkal ini kan mau diisi juga. Ya jalanin aja," kata Zamansyah.

"Orang istri pun udah sakit-sakitan, dia kan ada darah tinggi, gula, lemah jantung. Udah nggak bisa kerja juga."

"Nggak ada pilihan. Mau usaha modal nggak ada. Hanya mengharapkan belas kasihan orang, nggak mungkin."

Bagi Zamansyah menjadi badut bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak pandai ia berjoget. Badannya kaku. Belum lagi soal pinggangnya.

"Ya gini aja lah pakai kostum badut, menghibur, joget-joget aja gitu kan. Sebetulnya nggak pandai juga joget-joget," ucapnya.

Ia mengatakan pernah beberapa kali didata untuk menerima bantuan sosial. Namun bantuan yang dijanjikan tidak kunjung diterima. Pengalaman itu membuatnya enggan kembali mengikuti pendataan.

"Dari BLT, bansos, apa semua. Yang diminta Kartu Keluarga kita, tapi bantuannya nggak ada," ujar Zamansyah.

Kini ia memilih mengandalkan penghasilannya sendiri. Meminta uang secara langsung, menurut dia, membuatnya malu. Kostum badut menjadi cara untuk mendapatkan uang tanpa harus menengadahkan tangan kenorang lain.

Zamansyah sadar pekerjaan itu bukan sesuatu yang pernah ia cita-citakan. Namun di usia yang mendekati 60 tahun, dengan tubuh yang tak lagi sekuat dulu dan keluarga yang masih membutuhkan biaya, ia merasa tidak punya banyak pilihan.

"Apapun ceritanya, berusaha aja," kata Zamansyah.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network