Menurut Marthius, perkembangan buku anak di berbagai negara saat ini sangat pesat. Buku tidak lagi hanya berisi tulisan dan gambar, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual dan interaktif yang mampu merangsang imajinasi anak.
"Ada buku yang bisa mengeluarkan suara, ada juga yang ketika dibuka memberikan visualisasi untuk membantu imajinasi anak berkembang. Ini pengalaman yang berbeda dibanding membaca buku konvensional," katanya.
Momentum libur sekolah dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan kembali kebiasaan membaca di lingkungan keluarga. Selain mengurangi ketergantungan pada layar, membaca juga dapat menjadi aktivitas bersama yang mempererat hubungan orang tua dan anak.
Tahun ini, penyelenggara membawa koleksi yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya di Medan. Selain buku anak, tersedia pula berbagai koleksi fiksi populer dan edisi premium yang banyak diminati pembaca.
"Setiap tahun ukuran acara di Medan semakin besar. Koleksi yang kami bawa juga semakin banyak dan semakin beragam," ujar Marthius.
Founder Big Bad Wolf Books, Andrew Yap, mengatakan akses terhadap buku berkualitas seharusnya dapat dinikmati semua kalangan.
"Sejak awal kami percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk membaca dan belajar melalui buku," katanya.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
