Di sisi hulu, petani masih menghadapi berbagai tantangan. Agus Parulan Siregar, anggota LPHD Permata Hijau, mengatakan bahwa saat ini pengembangan kopi di desanya masih berada pada tahap pembibitan. Ribuan bibit kopi tengah disiapkan untuk mendukung perluasan lahan tanam.
“Sekarang ini kita masih fokus di pembibitan dari bantuan yang ada. Sekitar 3.000 bibit sedang kita kelola,” ujarnya.
Namun, keterbatasan bibit dan akses pasar masih menjadi kendala utama. Fluktuasi harga dari tengkulak juga kerap memengaruhi motivasi petani.
“Harga dari toke tidak menentu. Kami berharap ada pembeli yang lebih pasti,” tambah Agus.
Selain itu, kebutuhan akan pendampingan teknis juga masih tinggi, mulai dari perawatan tanaman hingga pemupukan. Petani berharap ada dukungan berkelanjutan agar produksi bisa meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kepala Desa Marancar Godang, Ridwan Siregar, menyebut luas kebun kopi di wilayahnya saat ini telah mencapai sekitar 15 hektare, dengan produksi berkisar antara 600 kilogram hingga 1 ton per bulan.
“Kita terus dorong masyarakat menanam kopi karena wilayah ini sangat cocok. Tapi yang utama itu kemauan, baru kemudian perawatan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam penyediaan bibit unggul, pembinaan, serta akses pasar yang lebih luas.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
