Kopi Tapsel Tembus Davos: Bukti Nyata Cuan Melimpah Tanpa Harus Babat Hutan!

Jafar Sembiring
Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menghadiri peresmian pusat Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang populer dijuluki “Huta Kopi” di Tapanuli Selatan. Foto: Istimewa

TAPANULI SELATAN, iNewsMedan.id - Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa pengembangan kopi bukan sekadar soal bisnis, melainkan instrumen vital dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kopi Tapanuli Selatan tetap menjadi komoditas unggulan yang ramah lingkungan.

Hal ini diungkapkan Panut dalam peresmian pusat Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang populer dijuluki “Huta Kopi” di Tapanuli Selatan. Ia menjelaskan bahwa pemilihan nama “huta” yang berarti kampung bertujuan menciptakan sebuah ekosistem inklusif bagi masyarakat dan para mitra untuk saling bersinergi.

“Huta kopi ini kita jadikan sebagai rumah bersama, tempat berkolaborasi antara masyarakat, lembaga pendamping seperti LPHD, serta berbagai mitra untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan menjaga ekosistem,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, GJI membuka ruang kolaborasi luas dengan masyarakat Tapanuli Selatan, khususnya kelompok binaan seperti Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), guna mendorong pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK), termasuk kopi, agar memiliki nilai tambah.

Selain sebagai pusat aktivitas, “gerai huta” juga difungsikan sebagai ruang promosi produk-produk HHBK yang ditargetkan menembus pasar internasional.

Panut mengungkapkan, kopi Tapanuli Selatan kini mulai mendapat perhatian global. Produk kopi dari wilayah tersebut bahkan telah diperkenalkan dalam forum internasional di Davos, Swiss, sebagai bagian dari komoditas berbasis komunitas yang potensial.

“Sekarang kita dorong branding ‘Kopi Tapsel’, mencakup kopi dari Marancar, Sipirok, dan wilayah lainnya, agar punya identitas kuat di pasar,” katanya.

Menurutnya, kopi memiliki peluang pasar yang sangat besar karena telah menjadi bagian dari gaya hidup global lintas kelas sosial. Fenomena “ngopi” bahkan berkembang menjadi medium interaksi sosial hingga diplomasi bisnis.

“Sekarang orang bicara usaha, diskusi, bahkan menjalin relasi banyak dimulai dari kopi. Ini peluang besar yang harus kita tangkap,” ujarnya.

Lebih dari sekadar komoditas, Panut juga menyinggung filosofi kopi sebagai simbol kehidupan. Meski identik dengan rasa pahit dan warna hitam, kopi justru menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan semangat.

“Tidak semua yang pahit itu menyedihkan, dan tidak semua yang hitam itu buruk. Kopi justru menyatukan, menciptakan suasana, dan membuka ruang dialog,” katanya.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network