Lebih lanjut, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil signifikan dengan kenaikan sebesar 3,50 persen. Kenaikan juga terjadi pada sektor pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga restoran.
“Adapun komoditas yang paling dominan mendorong inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta berbagai jenis ikan seperti dencis dan tongkol,” ungkapnya.
Tak hanya itu, terdapat sejumlah komoditas yang justru menahan laju inflasi, bahkan menyumbang deflasi secara tahunan. Komoditas tersebut di antaranya cabai merah, kentang, bawang putih, hingga cabai rawit.
Sementara secara bulanan, deflasi terutama dipicu oleh turunnya harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, tomat, dan cabai rawit. Selain itu, penurunan harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara juga turut berkontribusi terhadap deflasi.
“Pada aspek musiman pasca hari besar keagamaan serta perbaikan distribusi menjadi faktor utama turunnya harga sejumlah komoditas pangan,” ujar Asim.
Meski terjadi deflasi bulanan, BPS mencatat secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), Sumatera Utara masih mengalami deflasi sebesar 0,66 persen. Dengan kondisi ini, BPS mengimbau agar pemerintah dan pemangku kebijakan tetap mewaspadai potensi gejolak harga, terutama pada komoditas pangan strategis yang cenderung fluktuatif.
"Maka itu, stabilitas harga perlu terus dijaga, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar tetap dalam kisaran yang sehat,” pungkasnya.
Editor : Chris
Artikel Terkait
