Ketika Ide Pelajar Menjadi Inovasi: Dari Kendaraan Amfibi hingga AI Pemantau Konsentrasi

Ismail
Piero Botha, Principal Sampoerna Academy L’Avenue, bersama para pemenang STEAM Inter-School Competition 2026 kategori Secondary School. Foto: Istimewa

JAKARTA, iNewsMedan.id— Di sebuah ruang pamer di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, berbagai prototipe karya pelajar dipajang rapi. Ada kendaraan kecil yang bisa melaju di darat sekaligus mengapung di air. Di meja lain, siswa mempresentasikan alat berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memantau tingkat konsentrasi belajar.

Inovasi-inovasi itu lahir dari tangan pelajar berbagai daerah yang berkumpul dalam STEAM Inter-School Competition 2026, ajang adu kreativitas di bidang sains dan teknologi yang digelar dalam rangkaian STEAM Expo 2026.

Tahun ini, kompetisi tersebut menerima 123 karya inovasi dari siswa berbagai kota di Indonesia. Setelah melalui proses kurasi, 31 tim akhirnya melaju ke babak final untuk mempresentasikan proyek mereka secara langsung di hadapan juri.

Para finalis datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Malang, hingga Palembang.

Principal Sampoerna Academy L’Avenue, Piero Botha, mengatakan ajang ini dirancang untuk mendorong siswa berani bereksperimen dan mengembangkan ide di luar ruang kelas.

“Ketika siswa diberi kesempatan untuk mencoba, gagal, lalu memperbaiki idenya, di situlah proses inovasi sebenarnya terjadi,” kata Piero.

Kreativitas yang Berangkat dari Masalah Sehari-hari

Berbagai proyek yang dipamerkan menunjukkan bagaimana siswa mencoba menjawab persoalan nyata dengan pendekatan ilmiah.

Di kategori sekolah dasar, misalnya, tim dari Sampoerna Academy Medan berhasil meraih juara pertama lewat proyek Amphibious Vehicle, sebuah kendaraan mini yang mampu bergerak di dua medan sekaligus: darat dan air.

Pada kategori sekolah menengah pertama, inovasi yang mencuri perhatian datang dari Power Mats, karya siswa Sampoerna Academy Surabaya. Proyek ini mengusung konsep lantai yang dapat menghasilkan energi listrik dari tekanan langkah kaki.

Sementara itu, pada kategori sekolah menengah atas, ide-ide yang muncul semakin kompleks. Salah satu tim meneliti pemanfaatan minyak esensial dari kulit jeruk untuk menghambat bakteri pembusuk daging, sementara tim lain merancang alat pendeteksi dini gagal ginjal portabel berbasis analisis napas dan teknologi machine learning.

Ada pula proyek berbasis computer vision yang dikembangkan untuk memantau tingkat konsentrasi siswa secara real-time selama proses belajar.

Ilmuwan Muda Turut Mengawal

Kompetisi ini juga melibatkan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) sebagai mitra sekaligus dewan juri. Kehadiran para peneliti muda memberi perspektif ilmiah terhadap berbagai proyek yang dipresentasikan siswa.

Perwakilan ALMI, Prasanti Widyasih Sarli, menilai kegiatan seperti ini penting untuk menumbuhkan minat sains sejak usia sekolah.

Menurutnya, ruang-ruang eksperimen seperti ini membantu siswa melihat sains bukan sekadar teori di buku, tetapi sebagai alat untuk memahami dan memecahkan masalah di sekitar mereka.

Para Pemenang

Setelah melalui proses penilaian, dewan juri menetapkan sejumlah tim terbaik dari tiap kategori.

Pada kategori Primary School (kelas 5–6), juara pertama diraih proyek Amphibious Vehicle dari Sampoerna Academy Medan, disusul Rain Sensor dari Sampoerna Academy L’Avenue sebagai juara kedua, dan Bio-C Brawijaya Smart Bio-Chamber dari SD Brawijaya Smart School di posisi ketiga.

Di kategori Middle School (kelas 7–9), Power Mats dari Sampoerna Academy Surabaya keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati proyek Solar Powered Weather Monitor dari Sekolah Victory Plus, sementara Eco Sort, tempat sampah pintar yang mampu memilah sampah otomatis dari Sekolah Bogor Raya, meraih juara ketiga.

Sementara itu pada kategori Secondary School (kelas 10–12), juara pertama diraih penelitian tentang efektivitas minyak kulit jeruk terhadap bakteri pembusuk daging dari SMA Bumi Cendekia Yogyakarta. Juara kedua diraih tim SMA 1 Bogor dengan proyek KD-01, alat pendeteksi gagal ginjal portabel berbasis machine learning. Sedangkan posisi ketiga diraih SMAK 1 BPK Penabur Bandung lewat pengembangan Minrva AI, sistem pemantau konsentrasi belajar berbasis computer vision.

Menumbuhkan Generasi Inovator

Melihat ragam ide yang muncul, kompetisi ini memperlihatkan satu hal: potensi generasi muda Indonesia dalam bidang sains dan teknologi sangat besar.

Bagi para siswa, ajang ini bukan sekadar kompetisi. Ia menjadi ruang untuk membuktikan bahwa ide yang lahir dari ruang kelas bisa berkembang menjadi inovasi yang relevan bagi masa depan.

Dan dari tangan-tangan muda itulah, mungkin saja lahir solusi untuk berbagai tantangan yang akan dihadapi dunia di masa mendatang.

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network