MEDAN, iNewsMedan.id - Laju inflasi Sumatera Utara (Sumut) periode Februari 2026 cenderung lebih tinggi dari Januari sebesar 3,81 persen (YoY), namun sedikit lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 4,76 persen (YoY).
Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara (Sumut) mencatat inflasi tahunan Sumut sebesar 4,71% (YoY).
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra mengatakan, kenaikan inflasi tahunan Sumut masih dipicu dari tarif listrik, emas, dan kebutuhan pokok yang menyumbang inflasi rata-rata lebih dari 1 persen.
"Adapun kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang inflasi tertinggi dengan andil 1,87 persen dan mengalami inflasi 13,28 persen (YoY)," kata Asim, Rabu (4/3/2026).
Asim menjelaskan, untuk komoditas emas perhiasan yang masuk kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi 1,05 persen dengan laju inflasi sebesar 16,94 persen (YoY).
Sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,42 persen (YoY) namun menyumbang sebesar 1,26 persen terhadap besaran inflasi tahunan Sumut pada Februari 2026.
Asim menjelaskan, tarif listrik pun menjadi penyumbang inflasi Sumut pada Februari 2026 dengan andil 1,76 persen, menduduki urutan pertama dari emas perhiasan yang berandil 0,98 persen, daging ayam ras (0,43 persen), beras (0,29 persen), dan ikan dencis (0,24 persen).
"Sumut memang masih terpengaruh low based effect dari tarif listrik yang tahun lalu ada diskon sehingga saat ini tarif listrik masih menyumbang inflasi 1,76 persen secara YoY," jelas Asim.
Lebih lanjut, untuk komoditas penyumbang deflasi Sumut pada Februari 2026 yakni cabai merah yang berandil -0,35 persen, cabai rawit (-0,19 persen), kentang (-0,15 persen), bawang putih (-0,11 persen), dan wortel (-0,09 persen).
Secara bulanan, Sumut mengalami inflasi sebesar 0,22 persen (month-to-month/MtM) pada Februari. Sedangkan secara kumulatif dari Desember 2025 sampai Februari 2026, Sumut deflasi 0,53 persen (year-to-date/YtD).
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
