MEDAN, iNewsMedan.id - Menjelang Ramadhan 2026, pertanyaan seputar hal-hal yang membatalkan puasa kembali mencuat. Mulai dari hukum muntah hingga hubungan badan, banyak warga yang masih ragu soal keabsahan ibadah mereka.
Merujuk panduan resmi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, berikut adalah 5 hal penting yang wajib diwaspadai agar puasa Anda tetap sah:
1. Haid dan Nifas
Dalam Islam, perempuan diberikan keringanan saat mengalami haid atau nifas (darah yang keluar setelah persalinan). Jika darah haid keluar di tengah waktu berpuasa, maka puasa tersebut batal dan wajib menggantinya (qada) di hari lain.
Sebagaimana hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.
Artinya: “Kami dulu mengalami haid. Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha salat.” [HR. Muslim, no. 335].
2. Berhubungan Badan (Jima')
Melakukan hubungan seksual dengan pasangan di siang hari pada bulan Ramadan secara sengaja akan membatalkan puasa dan mendatangkan konsekuensi atau kafarat yang berat.
Allah Swt. berfirman:
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Artinya: "Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa." [QS. al-Baqarah (2): 187].
3. Onani atau Masturbasi
Mengeluarkan air mani dengan sengaja melalui stimulasi mandiri (masturbasi), baik dilakukan laki-laki maupun perempuan, menyebabkan puasa batal. Namun, berbeda halnya jika keluar karena mimpi basah yang tidak disengaja.
Berdasarkan Hadis Riwayat Tirmidzi dan Baihaqi:
عن أبي سعيد الحدري قال : قال رسول الله صلي الله علبه وسلم : ثَلَاث ٌلاَ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ : أَلحِجَامَةُ وَالْقَيْءُ وَاْلإِحْتِلاَمُ (رواه الترميذي والبيهقي)
Artinya: Dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda: “Tiga hal yang tidak membuat batal orang yang berpuasa: berbekam, muntah, dan mimpi basah (hingga keluar mani).” [HR. Tirmidzi dan Baihaqi].
4. Makan dan Minum secara Sengaja
Memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui mulut atau hidung, baik itu makanan, minuman, maupun obat-obatan, akan membatalkan puasa. Hal ini juga termasuk istinsyaq (menghirup air ke hidung saat wudu) yang dilakukan secara berlebihan hingga masuk ke tenggorokan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 187:
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ
Artinya: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar…” [QS. al-Baqarah (2): 187].
5. Muntah dengan Sengaja
Mengeluarkan isi perut melalui mulut dengan sengaja akan membatalkan puasa. Namun, jika muntah terjadi secara tidak sengaja (karena sakit atau hal lain), maka puasa tetap sah.
Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah Saw:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ, وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang muntah, maka ia tidak berkewajiban qadha (puasa). Tetapi siapa saja yang sengaja muntah, maka ia berkewajiban qadha (puasa).” [HR Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i].
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
