Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Petisi Ahli Desak Polri Usut Aktor Intelektual Kerusuhan Demo RUU Perampasan Aset
Advertisement . Scroll to see content

Jurnalis Senior Sumut Eddy Iriawan Bedah Citra Polri dalam Buku, Ini Model yang Ditawarkannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:49 WIB
  • author ismail
Jurnalis Senior Sumut Eddy Iriawan Bedah Citra Polri dalam Buku, Ini Model yang Ditawarkannya
Jurnalis senior Sumut Dr Eddy Iriawan menyerahkan buku karyanya kepada promotor, Prof Dr Iskandar Zulkarnain. Foto: Ismail/iNewsMedan.id

Dalam penelitian yang menjadi dasar buku tersebut, Eddy juga menemukan persoalan pengalaman masyarakat ketika berurusan dengan polisi turut memengaruhi citra Polri.

"Citra negatif Polri ini sebesar 66,2 persen didasarkan pada pengalaman buruk pribadi yang dialami para individu saat berurusan dengan polisi. Di antaranya tidak mendapat respons atas pengaduan yang mereka sampaikan," ujarnya.

Menurut Eddy, persoalan komunikasi menjadi semakin kompleks ketika kasus yang melibatkan oknum kepolisian mendapat perhatian besar di media dan media sosial.

Ia mencontohkan kasus Ferdy Sambo dan Teddy Minahasa. Menurutnya, derasnya pemberitaan mengenai kasus tersebut dapat membuat persoalan yang dilakukan individu dipersepsikan sebagai persoalan institusi.

"Meskipun peristiwa-peristiwa kejahatan itu dilakukan oleh beberapa oknum, namun derasnya arus informasi mengenai peristiwa itu membuat masyarakat menggeneralisir kejahatan tersebut secara institusi," katanya.

Buku ini kemudian menawarkan sejumlah langkah dalam penerapan model PRISM, antara lain mengenali isu sejak awal, memantau aktivitas tagar di media, mengelompokkan isu, membaca konteks sosial dan narasi yang berkembang, serta mengidentifikasi aktor yang berperan dalam penyebaran isu.

Tahap berikutnya adalah menyusun respons berbasis data, membangun kolaborasi dengan lembaga lain, membuka ruang dialog dengan masyarakat, mengevaluasi dampak komunikasi dan mendokumentasikan hasilnya sebagai bahan menghadapi persoalan serupa.

Eddy menekankan, model tersebut tidak berhenti pada upaya membangun narasi di media.

"Polri tidak cukup hanya melakukan langkah-langkah framing media, gerakan sosial digital dan konstruksi narasi publik. Jauh lebih dalam, Polri dituntut mampu memberikan respons terhadap tekanan tagar melalui strategi komunikasi dan manajemen citra secara bersamaan," ujarnya.

Karena itu, buku tersebut juga menempatkan jajaran humas sebagai bagian penting dalam pelaksanaan komunikasi institusi. Respons terhadap isu, menurut Eddy, perlu memiliki pola yang terkoordinasi dari tingkat Mabes Polri hingga Polda dan Polsek.

"Yang terpenting dari semua ini adalah lini divisi humas sebagai yang terdepan mulai dari Mabes, Polda hingga ke tingkat Polsek. Keseragaman gerak dalam menerapkan ini akan menentukan keberhasilan dalam membangun komunikasi untuk merestrukturisasi citra positif Polri," katanya.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut