Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Empat Pilar Pertahanan Siber untuk Menghadapi Ancaman di Era Cloud
Advertisement . Scroll to see content

1,5 Miliar Serangan Siber Terjadi, Indonesia Butuh White Hat Hacker

Jum'at, 25 September 2026 | 20:46 WIB
  • author Odi Siregar
1,5 Miliar Serangan Siber Terjadi, Indonesia Butuh White Hat Hacker
Finalis babak Grand Final Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 mengikuti kompetisi keamanan siber di Institut Teknologi Del (IT Del), Balige, Kamis (24/9/2026). Foto: Istimewa

BALIGE, iNewsMedan.id - Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga ahli untuk menghadapi ancaman siber yang terus meningkat. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sebanyak 1,52 miliar serangan siber tercatat pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026.

Pendiri IT Del sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menilai meningkatnya ancaman keamanan siber dan pesatnya kemajuan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) menuntut penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Oleh karena itu, IT Del memberikan perhatian khusus pada pengajaran AI sekaligus pengembangan kapasitas keamanan siber.

“Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber. IT Del juga memberi perhatian pada pengajaran kecerdasan artifisial agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi,” kata Luhut.

Di tengah urgensi memperkuat pertahanan digital nasional, Spentera Group, perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber, mendorong tumbuhnya talenta nasional dengan menggelar grand final kompetisi meretas tahunan Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 di Institut Teknologi Del (IT Del), Balige, Sumatera Utara, Kamis (24/9/2026).

Babak penyisihan kompetisi yang berlangsung sejak 17 Agustus 2026 ini diikuti oleh 410 peserta dari 136 tim, hingga menyisakan tiga tim terbaik yang terdiri atas sembilan peserta untuk melaju ke babak final. Para peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan beberapa di antaranya berasal dari luar negeri.

Co-Founder dan Owner Spentera Group, Royke Lumban Tobing, menyatakan bahwa besarnya ancaman siber harus dijawab dengan mempercepat penyiapan SDM. Menurutnya, kebutuhan industri terhadap tenaga ahli keamanan siber masih jauh lebih besar dibandingkan ketersediaan talenta yang ada saat ini.

“Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan SDM masih terlalu besar. Keamanan siber adalah bagian penting dari keamanan nasional. Menjaga keamanan siber berarti ikut menjaga kedaulatan nasional dan melindungi warga negara,” ujar Royke.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut