Seru-seruan Lomba 17-an Bisa Jadi Haram, Ini yang Diingatkan MUI
JAKARTA, iNewsMedan.id – Meriahkan HUT Kemerdekaan dengan lomba Agustusan boleh-boleh saja. Namun, panitia perlu berhati-hati menentukan sumber dana hadiah agar perlombaan tidak masuk kategori judi.
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Abdul Muiz Ali, menyoroti kebiasaan panitia menarik uang pendaftaran dari peserta lomba. Menurutnya, uang tersebut tidak boleh kemudian dikumpulkan untuk diberikan kepada pemenang.
Ketentuan itu menjadi penting karena peserta berada pada posisi bisa mendapatkan hadiah atau kehilangan uang yang telah dibayarkan. Skema semacam ini dinilai memiliki unsur qimar atau perjudian.
“Ulama Islam ijma’ atas kebolehan perlombaan secara umum. Lomba tanpa hadiah hukumnya boleh secara mutlak, seperti lomba lari atau ketangkasan lainnya,” ujar Kiai Muiz Ali mengutip pandangan Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni dikutip dari MUI Digital, Minggu (9/8/2026).
Kiai Muiz Ali mengatakan, perlombaan dalam rangka memperingati kemerdekaan tetap memiliki nilai positif. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana hiburan sekaligus melatih ketangkasan, kedisiplinan dan memperkuat kebersamaan warga.
Persoalan muncul ketika hadiah lomba berasal dari uang yang dipertaruhkan peserta. Ia menegaskan, panitia harus membedakan biaya penyelenggaraan dengan sumber dana hadiah.
“Satu hal yang perlu dihindari adalah praktik judi. Artinya, panitia tidak diperbolehkan menggunakan uang pendaftaran peserta sebagai bagian dari biaya hadiah. Itu tidak benar secara ketentuan fiqih dan haram hukumnya,” tegasnya.
Penjelasan tersebut merujuk pada ketentuan fikih dalam Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib. Dalam kitab tersebut, permainan yang membuat peserta berada dalam kemungkinan memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian dengan mempertaruhkan uang pribadi termasuk bentuk perjudian yang dilarang.
Karena itu, panitia tetap dapat menyediakan hadiah dengan menggunakan sumber dana lain. Sponsor, kas panitia atau sumbangan dari pihak ketiga yang tidak dibebankan kepada peserta dapat menjadi pilihan.
Dengan mekanisme tersebut, lomba kemerdekaan tetap bisa berlangsung semarak tanpa menjadikan uang peserta sebagai taruhan untuk memperebutkan hadiah.
Editor : Ismail