Kolang-Kaling Bukan Bikin Glowing, Ini Manfaat yang Sebenarnya untuk Tubuh
MEDAN, iNewsMedan.id – Selama ini kolang-kaling kerap dipercaya masyarakat mengandung kolagen yang membuat kulit menjadi glowing. Namun anggapan tersebut dipastikan hanya mitos. Meski begitu, buah aren ini tetap memiliki banyak manfaat kesehatan dan bahkan menyimpan potensi ekonomi yang besar jika diolah menjadi produk bernilai tambah.
Fakta tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) pengolahan kolang-kaling yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. H. Sofyan Tan, di Hotel Le Polonia, Medan, Jumat (24/7/2026).
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. H. Sofyan Tan, meluruskan anggapan bahwa kolang-kaling mengandung kolagen sehingga dapat membuat kulit menjadi glowing.
"Kolagen itu hanya berada di hewan, bukan di tumbuhan. Jadi mitos itu tidak benar, kalau kita makan kolang-kaling wajah kita otomatis glowing. Tetapi, mari kita lihat apa fungsi dari kandungan kolang-kaling yang sebenarnya," ujar Sofyan Tan.
Menurutnya, kolang-kaling tetap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Kandungan airnya mencapai sekitar 94 hingga 96 persen sehingga membantu mencegah dehidrasi. Buah ini juga mengandung sekitar 1,6 gram serat per 100 gram yang bermanfaat melancarkan pencernaan secara alami.
Selain itu, kandungan kalsium kolang-kaling mencapai 91 miligram per 100 gram atau mendekati kandungan kalsium susu sapi sekitar 125 miligram per 100 gram, sehingga berpotensi membantu menjaga kesehatan tulang dan sendi. Tingginya kandungan serat juga membuat rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga baik dikonsumsi saat menjalani program penurunan berat badan. Kolang-kaling juga dinilai dapat membantu mengontrol kadar gula darah selama pengolahannya tidak menggunakan gula secara berlebihan.
Di hadapan peserta, Sofyan Tan juga menceritakan pengalamannya memperkenalkan kolang-kaling yang menjadi pelengkap rujak khas Medan kepada rekan-rekannya dari luar daerah.
"Kalau ada teman-teman dari luar Medan datang, saya selalu ajak makan rujak Medan. Yang pertama habis justru kolang-kalingnya. Mereka bilang rasanya enak dan segar," katanya.
Tak hanya memiliki manfaat kesehatan, Sofyan Tan menilai kolang-kaling juga menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila diolah menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, ia menghadirkan peneliti BRIN dalam bimtek tersebut agar peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengolahan kolang-kaling menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Hari ini kolang-kaling punya nilai ekonomis yang bagus. Karena itu saya undang narasumber untuk mengisi Bimtek ini, agar bisa memberikan peningkatan pendapatan sekaligus menyehatkan keluarga. Nanti kalian bisa bikin merek sendiri, misalnya 'Kopi Antan' atau merek lain hasil belajar dari Ibu Usana Laura Liyu," pungkasnya.
Sementara itu, Peneliti BRIN Suzanne Laura Liwu mengatakan kolang-kaling merupakan komoditas lokal yang sebaiknya tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.
"Komoditas lokal memiliki dua pilihan, dijual sebagai bahan mentah atau diolah menjadi produk yang bernilai tinggi," ujarnya.
Menurut Suzanne, selama ini masyarakat umumnya hanya mengenal kolang-kaling sebagai pelengkap kolak atau manisan. Padahal, buah aren tersebut dapat diolah menjadi beragam produk, seperti selai, dodol, minuman, acar hingga topping yogurt.
Ia menjelaskan hampir seluruh bagian pohon aren memiliki nilai ekonomi. Batangnya dapat diolah menjadi tepung untuk bahan roti, mi, dan biskuit. Mayangnya menghasilkan nira yang dapat diolah menjadi gula cetak, gula semut maupun gula cair, sedangkan buahnya menjadi bahan baku kolang-kaling.
Suzanne juga mengungkapkan kolang-kaling mengandung air sekitar 93,6 persen sehingga mudah rusak apabila tidak segera diolah. Kandungan karbohidratnya didominasi galaktomanan yang memberikan tekstur kenyal, sementara seratnya membantu melancarkan pencernaan.
Dalam bimtek tersebut, peserta mempraktikkan pembuatan selai kolang-kaling. Menurut Suzanne, produk tersebut dipilih karena mampu memperpanjang umur simpan, meningkatkan nilai jual, serta memiliki peluang pasar yang luas sebagai isian pastry, nastar maupun topping yogurt. Selain itu, selai kolang-kaling dinilai memiliki nilai kebaruan yang masih tinggi sehingga berpotensi menjadi produk unggulan UMKM.
Editor : Ismail