Filosofi 'Berdiri di Garis Terakhir': Reposisi Aktivis Lingkungan Mengawal Hutan Sumatra
Buku otobiografi 'Berdiri di Garis Terakhir' digarap selama hampir tiga tahun oleh sahabat karib Panut sejak masa kuliah, Tikwan Raya Siregar. Judul buku ini menyimpan filosofi mendalam mengenai peran organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam peta konservasi di Indonesia.
Panut menceritakan, ide judul tersebut lahir dari diskusi mendalam dengan Tikwan mengenai reposisi para pejuang lingkungan saat ini.
"Saya selalu bilang kalau saya di garis depan (front line). Tapi Tikwan bilang, kalau di depan itu ranahnya pemerintah. Kita para CSO mengawal di belakang. Artinya, kita harus berdiri di garis terakhir untuk menjaga pertahanan agar kawasan hutan, ekosistem, dan spesies ini jangan sampai jebol. Ketika pemerintah dengan segala upayanya masih mengalami kebocoran, kitalah yang berada di belakang untuk mendorong dan memperkuat mereka," terang Panut.
Di balik rampungnya buku ini, penulis otobiografi Tikwan Raya Siregar secara blak-blakan mengungkapkan tantangan besar yang dihadapinya. Di hadapan para hadirin, Tikwan mengaku sempat diselimuti kekhawatiran mendalam dan memiliki pengalaman traumatik dengan proyek penulisan biografi tokoh terdahulu yang wafat sebelum bukunya selesai.
"Ketakutan itu sempat muncul kembali ketika Bang Panut mendatangi saya. Waktu duduk minum kopi, saya tatap dia agak lama. Saya membatin, kalau saya tulis biografi kawan ini, apakah dia akan 'titik-titik' juga? Hampir-hampir saya ragu. Tapi alhamdulillah, Bang Panut terbukti berkali-kali lolos dari masa kritis sejak masa kecilnya, dan hari ini kita bisa meluncurkan buku ini dalam keadaan sehat walafiat," kelakar Tikwan yang disambut tawa undangan.
Selain faktor psikologis, Tikwan membeberkan tiga tantangan utama dalam merampungkan buku ini yakni:
Komitmen Kejujuran: Tikwan mengajukan syarat ketat agar buku ini tidak sekadar menjadi media pemujaan. Ia meminta Panut berterus terang tanpa ada yang ditutupi agar perspektifnya kuat.
Mobilitas Tinggi Meretas Batas Negara: Proses wawancara kerap tertunda karena mobilitas Panut sebagai aktivis lingkungan internasional sangat tinggi ke berbagai penjuru dunia, mulai dari NTT, Prancis, Jepang, hingga keliling Asia Tenggara.
Sensitivitas Lingkungan: Sebagai tokoh konservasi yang sering berhadapan dengan konflik advokasi, kisahnya bersinggungan dengan banyak orang yang masih hidup. Narasi harus diramu hati-hati agar konflik masa lalu terungkap jujur tanpa mencemarkan nama baik pihak lain.
Acara peluncuran dan refleksi ini juga menghadirkan empat penanggap utama yang membedah isi buku dari berbagai sudut pandang, yakni Prof. Dr. Edy Ikhsan, SH., MA, Syafrizaldi Jpang (Aal Jpang), Yulhasni, dan Rizanul Arifin sebagai perwakilan media.
Turut hadir para pejuang senior gerakan lingkungan seperti Soekirman (mantan Bupati Serdang Bedagai sekaligus pendiri Bitra Indonesia), jajaran akademisi, serta aktivis hijau yang selama ini bahu-membahu melindungi satwa liar dan habitatnya di Sumatra. Jalannya diskusi dipandu secara dinamis oleh Wanasari, Kepala Biro (Kabiro) tvOne wilayah Medan dan Sumatera Utara.
Melalui momentum 25 tahun ini, Panut berharap perjuangan YOSL-OIC tidak berhenti di sini, melainkan terus bergerak dinamis mengawal masa depan lingkungan hidup Sumatra hingga generasi-generasi berikutnya.
Editor : Chris