Dari Sampah Menjadi Peluang, RecycloGoods Ubah Limbah Plastik Menjadi Produk Bernilai
MEDAN, iNewsMedan.id - Tumpukan sampah plastik selama ini identik dengan persoalan lingkungan yang sulit diatasi. Namun, di tangan sebagian orang, limbah yang dianggap tidak lagi berguna justru berubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membawa manfaat bagi lingkungan.
Semangat itulah yang melahirkan RecycloGoods, sebuah usaha daur ulang plastik asal Medan yang berdiri pada September 2021, di tengah pandemi Covid-19. Saat banyak sektor usaha mengalami perlambatan, Rafiq Akbar bersama rekan-rekannya justru melihat peluang dari persoalan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.
"Kami memulai usaha ini karena keresahan melihat sampah plastik yang berserakan, termasuk di lingkungan kampus. Dari situ kami berpikir, apakah sampah ini bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai," ujar Founder RecycloGoods, Rafiq Akbar Kamis (16/7/2026).
Berbekal riset secara mandiri melalui berbagai referensi, mereka mempelajari teknik pengolahan plastik hingga merancang sendiri mesin produksi yang digunakan untuk mengolah limbah menjadi lembaran material baru.
Dari proses tersebut lahirlah berbagai produk seperti coaster, tempat sabun, vas bunga, jam dinding, jam tangan, hingga berbagai produk dekorasi dan furnitur yang dapat dibuat sesuai permintaan pelanggan.
Menurut Rafiq, tujuan utama RecycloGoods bukan semata menghasilkan keuntungan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik.
"Harapan kami, masyarakat semakin sadar bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ternyata bisa diolah menjadi produk yang estetik, berkualitas, dan memiliki nilai ekonomi," katanya.
Komitmen tersebut mengantarkan RecycloGoods menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia setelah mengikuti program Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) pada 2024. Melalui proses kurasi, usaha ini kemudian memperoleh berbagai bentuk pendampingan, mulai dari pelatihan pengembangan usaha, pemasaran digital, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Editor : Chris