66 Persen Citra Negatif Polri Akibat Pengalaman Buruk Warga
Solusi Melalui Model PRISM Polri
Dalam konteks komunikasi, fenomena ini berpotensi terus menggerus citra Polri jika tidak segera ditemukan metode yang tepat untuk mengoreksi informasi. Oleh karena itu, Eddy menawarkan sebuah kebaruan (novelty) dalam pola komunikasi institusi guna mereduksi citra negatif yang terbangun secara massal.
Menurut Eddy, Polri tidak bisa lagi hanya mengandalkan langkah-langkah konvensional seperti pembingkaian media (media framing), gerakan sosial digital, atau konstruksi narasi publik. Saat ini, institusi Polri dituntut mampu memberikan respons cepat terhadap tekanan tagar (hashtag) melalui strategi komunikasi dan manajemen citra yang terintegrasi.
"Kebaruan atau novelty ini saya beri istilah dengan model PRISM (Public Response Integrated Strategic Management Image Recovery) Polri," ungkapnya.
Model PRISM Polri ini mencakup 8 langkah strategi utama:
1. Identifikasi Awal: Menyatukan aktivitas tagar di media sosial.
2. Klasifikasi Isu: Memetakan isu berdasarkan segmen politik, sosial, dan lainnya.
3. Analisis Konteks: Menilai konteks sosial, narasi dominan, dan aktor kunci di balik penyebaran tagar untuk merumuskan strategi komunikasi yang tepat.
4. Respons Terintegrasi: Menyusun klarifikasi konten berbasis data yang disesuaikan dengan gaya bahasa publik.
5. Kolaborasi Lintas Lembaga: Melibatkan kementerian atau lembaga lain di luar Polri.
6. Dialog Publik: Membuka ruang partisipasi publik seperti diskusi daring, jajak pendapat (polling), dan sejenisnya.
7. Evaluasi Berkala: Mengukur dampak komunikasi terhadap opini publik menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif atas data media sosial.
8. Dokumentasi dan Adaptasi: Mencatat seluruh respons, strategi, dan hasil ke dalam basis data institusi sebagai acuan penanganan isu serupa di masa depan.
Editor : Jafar Sembiring