Viral Ibu Bersujud di Depan Baliho Bobby, Gubernur Ungkap Penyebab Sebenarnya
MEDAN, iNewsMedan.id- Video seorang ibu yang menangis dan bersujud di depan baliho Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mendadak viral di media sosial. Dalam video itu, Nurmian Sari Purba memohon bantuan karena tidak sanggup membayar biaya pengobatan anaknya yang dirawat di RS Mitra Medika Premiere Medan.
Dengan suara bergetar, perempuan itu mengaku telah kehabisan biaya. Bahkan rumah miliknya disebut telah digadaikan demi menyelamatkan sang anak.
"Pak bantu kami pak, anak saya terbaring di rumah sakit. Biayanya terlalu besar, kami sudah tidak punya uang lagi. Rumah pun sudah saya gadai untuk menebus anak saya," ucap Nurmian dalam video yang beredar luas.
Tak hanya menangis, Nurmian dan suaminya juga tampak bersujud di depan baliho Bobby Nasution dan Wakil Gubernur Sumut Surya sambil terus meminta pertolongan.
Viralnya video tersebut langsung memicu perhatian publik. Menanggapi hal itu, Bobby Nasution memastikan persoalan biaya pengobatan anak Nurmian telah diselesaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
"Kalau masalah biaya pengobatan anaknya silakan dicek, sudah selesai. Bahkan saat itu ketika beliau datang ke kantor, kebetulan saya tidak berada di tempat. Saya langsung minta agar dibantu dan ditanggung oleh Pemprov Sumut," kata Bobby kepada wartawan di Kantor PLN UP2B Sumbagut, Jalan Yos Sudarso, Medan, Senin (8/6/2026).
Bobby mengaku sempat bertemu langsung dengan Nurmian setelah video tersebut viral. Menurutnya, saat itu keluarga pasien belum mengetahui bahwa bantuan telah disiapkan pemerintah.
"Ternyata beliau masih datang ke rumah karena belum mendapat informasi. Saya sampaikan bahwa persoalannya sudah selesai, tidak perlu menangis lagi karena sudah ditangani," ujarnya.
Di balik polemik biaya pengobatan yang mencapai ratusan juta rupiah itu, Bobby justru menyoroti proses rujukan pasien yang dinilainya bermasalah.
Berdasarkan hasil penelusuran Dinas Kesehatan Sumut, anak Nurmian sebelumnya dirawat di RS Pertamina Pangkalan Brandan akibat luka tusuk. Karena membutuhkan penanganan lanjutan oleh dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular, pasien kemudian dirujuk ke RS Mitra Medika Premiere Medan.
Persoalannya, rumah sakit tersebut tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga seluruh biaya perawatan menjadi tanggungan keluarga pasien.
"Saya bukan membela siapa pun, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa pasien dirujuk ke rumah sakit yang tidak melayani BPJS. Yang salah bukan pasiennya, tapi proses rujukannya. Itu yang sedang kami cek," tegas Bobby.
Menurut Bobby, Sumatera Utara memiliki sejumlah rumah sakit pemerintah maupun swasta yang melayani BPJS dan memiliki fasilitas serta tenaga medis yang memadai.
"Nanti akan kita lihat kenapa dirujuk ke rumah sakit itu. Kita punya RSUP Adam Malik, ada rumah sakit daerah dan rumah sakit swasta lain yang melayani BPJS. Ini menjadi catatan yang harus dievaluasi," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Faisal Hasrimy menjelaskan bahwa sebelum operasi dilakukan, keluarga pasien telah menandatangani persetujuan tindakan medis dengan estimasi biaya sekitar Rp147 juta.
Setelah keluarga mengaku keberatan dengan besarnya biaya tersebut, Dinkes Sumut bersama pihak RS Pertamina Pangkalan Brandan melakukan komunikasi dengan RS Mitra Medika Premiere untuk meminta keringanan.
Hasilnya, tagihan yang semula mencapai Rp147 juta berhasil ditekan menjadi Rp129,574 juta. Karena keluarga telah lebih dulu menyetor uang muka sebesar Rp45 juta, maka sisa tagihan tercatat sebesar Rp84,574 juta.
Selain memberikan potongan biaya, pihak rumah sakit juga memberikan kelonggaran waktu pembayaran hingga 10 Juni 2026 sambil menunggu solusi penyelesaian dari pemerintah dan pihak terkait.
Editor : Ismail