Rahasia Jadi Dosen yang Dicintai Mahasiswa, Ternyata Bukan Soal Pintar Semata
MEDAN, iNewsMedan.id – Perubahan dunia industri dan perkembangan teknologi digital menuntut perguruan tinggi mengubah pola pembelajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Dosen pun dituntut tidak lagi sekadar mengajar, melainkan mampu menciptakan dampak nyata melalui capaian pembelajaran yang terukur.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, saat Sosialisasi Kebijakan Kampus Berdampak melalui Workshop Desain Pembelajaran Berbasis Outcome-Based Education (OBE) untuk Menjawab Tantangan Industri di Era Transformasi Digital di Auditorium Bung Karno Universitas ST Bhinneka, Medan, Jumat (5/6).
Menurut Sofyan Tan, metode pembelajaran konvensional yang selama ini mengandalkan pola satu arah tidak lagi cukup menjawab tantangan pendidikan tinggi saat ini.
“Dosen hari ini bukan sekadar pengajar, tetapi fasilitator. Yang utama bukan angka atau nilai, melainkan capaian pembelajaran atau outcome yang jelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberhasilan pembelajaran seharusnya diukur dari kemampuan mahasiswa menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekadar memahami teori di ruang kelas.
Sebagai contoh, pada mata kuliah bisnis digital, mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada pemahaman konsep semata, tetapi mampu membangun bisnis rintisan, memanfaatkan teknologi digital, hingga menciptakan inovasi yang bisa diterapkan secara nyata.
Selain penguasaan materi, Sofyan Tan juga menilai kemampuan menyampaikan materi menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan seorang dosen.
“Kalau tidak mampu membuat orang mengerti, itu artinya gagal menjadi dosen. Pintar saja tidak cukup. Harus bisa menguasai kelas dan menyampaikan materi dengan cara yang menarik,” katanya.
Ia mengaku mulai mengajar sejak usia 21 tahun, dengan rentang usia mahasiswa yang hanya terpaut satu hingga tiga tahun lebih muda darinya. Situasi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri yang hanya dapat diatasi melalui penguasaan materi dan kemampuan membangun wibawa di ruang kelas.
Salah satu pendekatan yang menurutnya efektif adalah memancing rasa penasaran mahasiswa melalui pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sebelum masuk ke substansi materi yang lebih kompleks.
Menurutnya, dosen juga perlu memahami alasan mahasiswa memilih suatu mata kuliah serta mengaitkan pembelajaran dengan isu-isu yang sedang berkembang agar materi terasa lebih relevan dan kontekstual.
Sofyan Tan menyebut tingkat kehadiran mahasiswa dapat menjadi indikator sederhana untuk menilai efektivitas proses pembelajaran.
“Kalau mahasiswa tetap datang meski kurang sehat karena ingin mengikuti kuliah, berarti dosennya berhasil. Tapi kalau kelas sering kosong, itu harus menjadi evaluasi,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I Prof Drs Saiful Anwar Matondang M.A., Ph.D., Tenaga Ahli DPR RI sekaligus Ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Finche Kosmanto S.E., M.Psi., Tenaga Ahli DPR RI Lisnawati Ginting, Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka Bobby Christian Halim S.H., M.H., CPM., serta narasumber Rahmat Widia Sembiring M.Sc.IT., Ph.D., dan Rin Rin Meilani S.Kom., M.Kom.
Editor : Ismail