408 Ribu Warga Sumut Masih Menganggur, Perbaikan Tipis Belum Signifikan
Berdasarkan gender, pengangguran perempuan masih lebih tinggi. TPT perempuan tercatat 5,23 persen, sementara laki-laki 4,87 persen.
“Untuk laki-laki terjadi kenaikan tipis 0,01 persen poin, sementara perempuan mengalami penurunan 0,09 persen poin,” jelasnya.
Dari sisi pendidikan, lulusan Diploma I/II/III mencatat tingkat pengangguran tertinggi sebesar 9,14 persen. Namun secara jumlah, lulusan SMA tetap mendominasi.
“Sekitar 40,11 persen pengangguran berasal dari lulusan SMA, sehingga kelompok ini masih menjadi penyumbang terbesar secara absolut,” katanya.
Struktur pekerjaan juga menunjukkan tantangan. Pekerja penuh mendominasi 67,82 persen, sementara 32,18 persen lainnya masih bekerja tidak penuh.
“Persentase pekerja tidak penuh menurun 0,58 persen poin dibandingkan Februari 2025,” ujarnya.
Kelompok setengah penganggur tercatat 6,84 persen.
“Artinya, sekitar 7 dari 100 pekerja masih belum bekerja secara optimal. Angka ini turun 1,72 persen poin dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Namun tren pekerja paruh waktu justru meningkat menjadi 25,33 persen, dengan perempuan sebagai kelompok terbesar.
“Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami kenaikan pada pekerja paruh waktu,” tutup Misfaruddin.
Meski indikator membaik, struktur pasar kerja Sumut masih rapuh. Kota tetap menjadi kantong pengangguran, sementara lulusan SMA dan pekerja paruh waktu mendominasi tekanan di lapangan.
Editor : Ismail