408 Ribu Warga Sumut Masih Menganggur, Perbaikan Tipis Belum Signifikan
MEDAN, iNewsMedan.id- Pasar kerja di Sumatera Utara belum sepenuhnya pulih. Per Februari 2026, jumlah pengangguran masih menyentuh 408 ribu orang, dari total angkatan kerja 8,135 juta jiwa.
Di sisi lain, jumlah penduduk yang bekerja tercatat 7,727 juta orang. Pergerakan ini menunjukkan ada perbaikan dibanding tahun lalu, namun lajunya masih terbatas.
Statistisi Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Misfaruddin, mengungkapkan peningkatan tenaga kerja belum diikuti penyerapan yang kuat.
“Jumlah angkatan kerja meningkat sekitar 27 ribu orang. Penduduk bekerja naik 28 ribu orang, sementara jumlah pengangguran justru menurun sekitar seribu orang,” ujarnya, Selasa (5/5).
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kini berada di 5,05 persen, hanya turun tipis 0,04 persen poin dibanding Februari 2025.
“Dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar 5 orang masih menganggur. Ini menunjukkan masih adanya tenaga kerja yang belum terserap optimal di pasar kerja,” katanya.
Ketimpangan terlihat jelas antara wilayah. Perkotaan masih menjadi penyumbang terbesar pengangguran dengan TPT 6,29 persen, jauh di atas perdesaan yang 3,04 persen.
“TPT perkotaan relatif stagnan, sementara perdesaan mengalami penurunan sebesar 0,21 persen poin,” ungkap Misfaruddin.
Berdasarkan gender, pengangguran perempuan masih lebih tinggi. TPT perempuan tercatat 5,23 persen, sementara laki-laki 4,87 persen.
“Untuk laki-laki terjadi kenaikan tipis 0,01 persen poin, sementara perempuan mengalami penurunan 0,09 persen poin,” jelasnya.
Dari sisi pendidikan, lulusan Diploma I/II/III mencatat tingkat pengangguran tertinggi sebesar 9,14 persen. Namun secara jumlah, lulusan SMA tetap mendominasi.
“Sekitar 40,11 persen pengangguran berasal dari lulusan SMA, sehingga kelompok ini masih menjadi penyumbang terbesar secara absolut,” katanya.
Struktur pekerjaan juga menunjukkan tantangan. Pekerja penuh mendominasi 67,82 persen, sementara 32,18 persen lainnya masih bekerja tidak penuh.
“Persentase pekerja tidak penuh menurun 0,58 persen poin dibandingkan Februari 2025,” ujarnya.
Kelompok setengah penganggur tercatat 6,84 persen.
“Artinya, sekitar 7 dari 100 pekerja masih belum bekerja secara optimal. Angka ini turun 1,72 persen poin dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Namun tren pekerja paruh waktu justru meningkat menjadi 25,33 persen, dengan perempuan sebagai kelompok terbesar.
“Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami kenaikan pada pekerja paruh waktu,” tutup Misfaruddin.
Meski indikator membaik, struktur pasar kerja Sumut masih rapuh. Kota tetap menjadi kantong pengangguran, sementara lulusan SMA dan pekerja paruh waktu mendominasi tekanan di lapangan.
Editor : Ismail