Lima Bulan Pascabanjir, Gizi Balita dan Air Bersih Jadi Masalah Mendesak di Batang Ara
ACEHTAMIANG, iNewsMedan.id— Lima bulan setelah banjir besar menerjang Gampong Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, persoalan warga belum sepenuhnya usai. Selain ekonomi yang belum pulih, ancaman gizi buruk pada balita, keterbatasan air bersih, hingga minimnya fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan mendesak.
Kondisi itu terungkap dalam kegiatan penyaluran bantuan pascabencana yang dibarengi edukasi pemenuhan gizi dan trauma healing bagi anak-anak, yang digelar Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) berkolaborasi dengan Rangkul Foundation bersama Pimpinan Pusat Aisyiyah Majelis Kesehatan di desa tersebut, Minggu, 26 April 2026.
Kepala Desa Batang Ara, Amril, mengatakan banjir yang melanda beberapa bulan lalu melumpuhkan kehidupan masyarakat. Rumah hanyut, lahan perkebunan rusak, dan sumber penghasilan warga terhenti.
“Waktu bencana kemarin kehidupan masyarakat di sini hancur. Rumah banyak yang hanyut, lumpur di mana-mana, ekonomi masyarakat pun terputus,” ujarnya.
Menurut Amril, hingga kini kondisi ekonomi belum stabil. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa sawit yang ikut terdampak banjir.
“Banyak sawit yang mati, tumbang, buahnya busuk. Sampai sekarang penghasilan masyarakat belum pulih,” katanya.
Ia menyebut, sebanyak 177 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa terdampak di dua dusun. Dari jumlah itu terdapat 52 balita yang membutuhkan perhatian khusus soal asupan gizi. Bantuan pangan yang sempat mengalir pascabencana kini mulai berkurang.
Warga pun kembali bertahan dengan makanan seadanya. “Kalau untuk gizi anak-anak, ya makan apa yang ada saja. Ikan, sayur seadanya. Susu untuk balita yang dulu sempat ada bantuan, sekarang sudah habis dan harus beli sendiri,” ucapnya.
Tak hanya itu, sektor pendidikan juga ikut terpukul. Sejumlah anak sekolah terpaksa belajar dengan fasilitas minim setelah bangunan dan perlengkapan rusak diterjang banjir. “Anak-anak sekolah masih aktif, tapi belum ada kursi. Mereka masih duduk di lantai,” katanya.
Saat ini, sebanyak 101 unit hunian sementara telah dibangun dan ditempati warga. Meski demikian, Amril berharap bantuan tidak berhenti hanya pada pembangunan fisik.
“Kami bersyukur masih ada yang datang membantu. Harapan kami desa ini cepat pulih, masyarakat bisa maju dan tidak terus bergantung pada bantuan,” ujarnya.

Sementara itu, Penyuluh Kesehatan dari Puskesmas Sekerak, Ersad menyebut kondisi kesehatan masyarakat belum mengalami perubahan signifikan. “Kalau dibilang pulih, masih jauh dari harapan,” katanya.
Menurutnya, memasuki musim kemarau, kebutuhan air bersih menjadi masalah utama karena kualitas air di wilayah tersebut memburuk.
“Yang paling mendesak sekarang saringan atau alat penjernih air. Kalau musim kemarau, air di sini jelek,” ujarnya.
Selain itu, fasilitas kesehatan untuk ibu hamil juga sangat terbatas. Sejumlah alat kesehatan rusak saat banjir.
“Angka kehamilan sekarang meningkat. Alat-alat untuk ibu hamil banyak yang rusak kena banjir. Yang dibutuhkan seperti doppler dan USG untuk layanan primer,” katanya.
Meski demikian, layanan posyandu, imunisasi, kelas ibu balita dan ibu hamil disebut mulai kembali berjalan normal.
Di sisi lain, Pimpinan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr. Hirfa Turrahmi, mengatakan pihaknya datang untuk mengevaluasi pola konsumsi masyarakat pascabencana, terutama bagi balita. Menurutnya, selama masa tanggap darurat, warga banyak mengonsumsi makanan instan dan minuman manis dari bantuan.
“Jangan sampai terus-menerus mengonsumsi makanan instan. Kami mengajak ibu-ibu menyiapkan makanan sehat dan gizi seimbang untuk balita,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih banyaknya anggapan keliru di masyarakat terkait susu kental manis.
“Mindset masyarakat harus diluruskan bahwa kental manis itu bukan susu dan tidak boleh dikonsumsi terus-menerus,” katanya.
Selain edukasi soal “Isi Piringku”, pihaknya juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan membatasi konsumsi gula, garam, serta lemak agar tidak memicu penyakit jangka panjang.
Menurut Hirfa, perhatian terhadap gizi balita pascabencana sangat penting untuk mencegah stunting. “Kita menyongsong Indonesia Emas 2045. Jangan sampai gizi balita pascabencana terabaikan,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudistira, mengatakan kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan di Desa Serba dan Pematang Durian, dan kini dilanjutkan ke Batang Ara. Selain edukasi gizi untuk ibu hamil dan ibu balita, pihaknya juga menggelar trauma healing untuk anak-anak.
“Kami ingin anak-anak kembali ceria. Mereka perlu aktivitas yang menyenangkan setelah mengalami bencana,” katanya.
Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak bermain sambil diberikan edukasi tentang konsumsi susu yang benar, sementara ibu-ibu mendapat pemahaman soal bahaya konsumsi berlebihan makanan instan dan susu kental manis.
YAICI bersama mitra juga menyalurkan paket gizi untuk balita, susu, sembako, dan makanan bergizi untuk warga.
Koordinator relawan, Deni Taufiq Kurrahman, berharap bantuan serupa tidak berhenti sebatas seremonial. “Harapan kami kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan, memberi manfaat dan pengetahuan luas bagi warga,” ujarnya.
Ia menilai masih banyak desa di Aceh Tamiang yang belum sepenuhnya pulih dan membutuhkan perhatian lebih.
“Masih banyak titik yang perlu bantuan, seperti Serba, Pematang Durian, dan beberapa desa lainnya,” katanya.
Editor : Ismail