Dari Dapur ke Energi, Warga Medan Dilatih Produksi Biogas dari Sampah
Lebih jauh, dia menyoroti fakta bahwa sebagian besar sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Lebih dari 50 persen sampah kita itu organik. Kalau ini diolah, bukan hanya mengurangi sampah, tapi juga mengurangi ketergantungan pada gas,” katanya.
Pelatihan ini juga menjadi upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Dari yang semula dianggap sumber masalah, menjadi peluang ekonomi dan energi.
Tak hanya menghasilkan biogas, proses pengolahan tersebut juga menghasilkan kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian rumah tangga.
“Dari satu sampah, kita dapat dua manfaat: gas untuk energi dan kompos untuk tanaman. Ini yang harus dipahami masyarakat,” ucapnya.
Sebagai bentuk keseriusan, ia bahkan menantang peserta untuk langsung mempraktikkan ilmu yang didapat. Dalam waktu satu bulan, ia berencana meninjau rumah warga yang berhasil mengolah sampah menjadi biogas.
“Nanti kita lihat siapa yang benar-benar menjalankan. Yang berhasil, akan kita beri apresiasi,” ucapnya.
Sementara itu, pemateri dari BRIN, Prasetyadi, menegaskan bahwa kunci utama pengolahan sampah menjadi energi terletak pada pemilahan sejak awal.
Sampah organik yang tidak tercampur akan lebih mudah diolah dan tidak menimbulkan pencemaran.
Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada energi konvensional, sekaligus mampu mengurangi timbunan sampah yang selama ini menjadi persoalan di perkotaan.
Editor : Ismail