Dari Ide Liar ke Panggung Nasional: Cerita Anak-anak Muda Menari, Bukan Sekadar Lomba
Tim Baru, Langsung Jadi Sorotan
Di kategori perguruan tinggi, Z-One Dance Company dari Universitas Negeri Medan datang dengan cerita berbeda. Mereka bukan tim lama. Bahkan, baru terbentuk sekitar lima bulan.
Tapi justru dari situ menariknya.
“Kami prosesnya dari nol sampai ke sini sekitar lima bulan. Lumayan panjang,” kata Febrian.
Mereka mengangkat dua ide. Pertama, soal saling tolong-menolong—yang diterjemahkan lewat koreografi penuh interaksi. Kedua, cerita rakyat Batak Toba lewat Tortor Sigalegale.
Perpaduan itu terasa kuat karena mereka tidak sekadar “menari”, tapi memahami cerita yang dibawa.

Yang menarik, tim ini berisi mahasiswa dari latar berbeda, termasuk mahasiswa baru yang langsung terjun ke kompetisi nasional.
“Buat beberapa dari kami ini pengalaman pertama. Tapi justru jadi semangat buat ke depan,” katanya.
Panggung yang Jadi Ruang Ekspresi
Kompetisi ini memang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah. Tapi yang terasa di lapangan, ajang ini lebih mirip ruang ekspresi daripada sekadar lomba.
Banyak peserta datang dengan identitas masing-masing. Ada yang kuat di tradisi, ada yang berani eksplorasi modern, ada juga yang menggabungkan keduanya.
Head of Campaign & Communication iForte, Albertus Eko Wardoyo, mengakui hal itu.
“Kami lihat anak-anak muda ini sebenarnya punya banyak ide. Mereka cuma butuh ruang. Di sini mereka bisa bebas mengekspresikan diri, tapi tetap bawa unsur budaya,” ujarnya.
Ia menyebut, konsep budaya memang sengaja dijaga sebagai benang merah.
“Karena justru di situ kekuatan mereka. Kreativitasnya keluar, tapi tetap punya akar,” katanya.
Editor : Ismail