Sering Salah Kaprah: Batas Akhir Sahur Itu Azan Subuh, Bukan Waktu Imsak
MEDAN, iNewsMedan.id - Di tengah masyarakat kita, masih banyak yang merasa panik dan langsung berhenti makan saat sirine imsak berbunyi. Muncul anggapan seolah-olah waktu imsak adalah garis finish untuk mengisi perut.
Namun, jika merujuk pada tuntunan syariat yang murni, batas dimulainya ibadah puasa bukanlah pada waktu imsak, melainkan tepat saat fajar shadiq terbit yang ditandai dengan kumandang azan Subuh.
Kepastian mengenai batas makan sahur ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari.
Pada zaman itu, terdapat dua muazin dengan tugas yang berbeda. Bilal bin Rabah mengumandangkan azan pertama di malam hari untuk membangunkan orang yang tidur dan memberi aba-aba bagi yang ingin sahur.
Sementara itu, Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan kedua sebagai tanda masuknya waktu Subuh. Rasulullah bersabda agar umatnya tetap makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan, karena beliau tidak akan berazan kecuali fajar telah benar-benar terbit.
Secara bahasa, imsak memang berarti menahan. Namun, waktu imsak yang biasanya dijadwalkan sepuluh menit sebelum azan Subuh di Indonesia sebenarnya hanyalah bentuk ikhtiar atau lampu kuning untuk berhati-hati.
Tujuannya sangat mulia, yaitu agar kita memiliki waktu luang untuk membersihkan mulut, bersiap-siap shalat, atau tidak terburu-buru saat azan tiba. Jadi, secara hukum fikih, seseorang yang masih memegang segelas air atau menyuap sisa makanan saat waktu imsak tiba, puasanya tetap sah karena pintu makan sahur belum benar-benar tertutup hingga muazin mengumandangkan azan Subuh.
Memahami bahwa batas akhir sahur adalah azan Subuh memberikan ketenangan bagi umat Muslim, terutama bagi mereka yang terlambat bangun. Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan. Dengan berpatokan pada terbitnya fajar, maka bisa memanfaatkan waktu sahur secara maksimal sesuai sunnah, yaitu dengan mengakhirkan sahur mendekati waktu Subuh.
Kesadaran akan hal ini menghindarkan dari rasa waswas yang berlebihan dan membuat ibadah puasa Ramadhan 2026 dijalani dengan ilmu yang benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta