Kisah Masjid Dhirar Dibakar, Ketika Tempat Ibadah Jadi Markas Konspirasi Kaum Munafik
MEDAN, iNewsMedan.id - Dalam sejarah Islam, masjid selalu menjadi simbol ketakwaan dan persatuan. Namun, pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) , pernah berdiri sebuah bangunan yang secara fisik adalah masjid, namun hakikatnya adalah sarang konspirasi. Bangunan itu dikenal sebagai Masjid Dhirar.
Semua bermula dari kebencian seorang pria bernama Abu Amir al-Rahib. Sebelum Islam menyinari Madinah, Abu Amir adalah tokoh yang disegani karena dianggap ahli kitab. Namun, kehadiran Nabi Muhammad SAW meruntuhkan pengaruhnya.
Dia menolak tunduk pada kebenaran dan memilih melarikan diri ke Romawi (Bizantium).Dari tanah Romawi, Abu Amir mengirim pesan rahasia kepada kaum munafik di Madinah. Dia berjanji akan membawa pasukan kaisar untuk mengusir Nabi. Sebagai persiapan, dia memerintahkan kaki-tangannya membangun sebuah markas strategis di Madinah yang terselubung sebagai masjid agar tidak dicurigai.
Maka sebanyak 12 orang munafik pun mulai membangun gedung tersebut di dekat Masjid Quba. Agar terlihat sah, mereka menciptakan alasan yang sangat manusiawi. Mereka mendatangi Rasulullah SAW yang saat itu tengah bersiap memimpin pasukan menuju Perang Tabuk.
"Wahai Rasulullah," kata mereka dengan nada lembut, "Kami telah membangun masjid untuk orang-orang yang lemah dan sakit di malam hujan dan musim dingin. Kami sangat berharap engkau sudi mampir dan shalat di dalamnya sebagai berkah.
"Nabi SAW, yang selalu berbaik sangka, tidak menolak namun meminta waktu. "Kami sedang dalam perjalanan perang. Jika kami kembali, insya Allah kami akan mendatanginya."
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta